Lingkaranberita.com, PENAJAM – Perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang sulit diprediksi kini menjadi tantangan nyata bagi sektor pertanian. Menjawab tantangan tersebut, Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) telah melakukan kesiapsiagaan guna melindungi produksi padi daerah dari ancaman Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
Langkah proaktif ini diambil setelah Distan PPU menerima peringatan dini dari Balai Besar Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) Jatisari terkait potensi peningkatan serangan hama pada tanaman padi.
Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten PPU, Gunawan, mengatakan kesiapsiagaan di tingkat lapangan menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko penurunan hasil panen.
“Kondisi iklim yang tidak menentu memang berpotensi memicu peningkatan serangan hama. Peringatan dari BBPOPT Jatisari menjadi dasar bagi kami untuk bergerak lebih cepat dan waspada dalam mengantisipasi serangan lima hama utama padi,” ucap Gunawan, Jumat (25/9/2026).
Distan PPU memfokuskan pengawasan pada lima jenis ancaman utama yang sering menyerang komoditas padi, yaitu penyakit blas; hawar pelepah daun; wereng; penggerek batang; hama utama pendamping lainnya.
Untuk mengantisipasi ancaman ini, Distan PPU menerjunkan Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) dan Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) ke seluruh wilayah PPU guna mendampingi para petani secara intensif. “Kami melakukan pendekatan ramah lingkungan hingga respon cepat 24 jam,” sebutnya.
Distan PPU mendorong penerapan pengendalian hama terpadu (PHT) yang disesuaikan dengan pola budidaya masing-masing petani. Dimana petani organik diarahkan memanfaatkan agens hayati seperti jamur Trichoderma untuk memperkuat imun tanaman, diselingi penggunaan pestisida nabati yang aman bagi lingkungan.
“Petani konvensional disiapkan dukungan bahan pengendali yang tepat guna sesuai dosis dan kebutuhan di lapangan,” tutur Gunawan.
Selain pendampingan, Distan PPU menerapkan sistem peringatan dini 24 jam. Melalui skema “Surat Merah” yang dilaporkan oleh petugas di lapangan, tingkat populasi hama dapat terpantau secara real-time.
“Kami menerima laporan peringatan dini selama 24 jam dari rekan-rekan petugas di seluruh PPU. Jika populasi hama atau tingkat serangan sudah melebihi ambang batas pengendalian, kami akan segera menggelar gerakan pengendalian massal agar serangan tidak meluas,” tegas Gunawan.
Musim ekstrem mungkin tidak bisa dihindari, namun dampaknya sangat bisa ditekan melalui kesiapan, keahlian, dan aksi nyata. Melalui pengawasan intensif, edukasi berkelanjutan, dan tindakan tanggap darurat.
“Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara berkomitmen penuh mendampingi para petani demi menjaga produktivitas dan mewujudkan ketahanan pangan yang tangguh di IKN,” tandas Gunawan. (adv)