Lingkaranberita.com, PENAJAM – Guna memastikan para petambak lokal mendapatkan pasokan bibit berkualitas tinggi, Pemkab PPU resmi menggandeng tim akademisi Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda untuk mengawal langsung proses budidaya rumput laut Gracilaria di Kecamatan Babulu. Pendampingan ilmiah ini ditargetkan mampu melipatgandakan hasil panen yang saat ini telah menembus 9.000 ton per tahun.
Kolaborasi strategis ini dipusatkan di kawasan tambak Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, yang selama ini menjadi salah satu sentra budidaya rumput laut potensial di Kabupaten PPU. Kepala Dinas Perikanan PPU, Andi Trasodiharto, menjelaskan keterlibatan para akademisi dari Unmul sangat krusial untuk memastikan keberhasilan riset dan pengembangan ini.
Keahlian ilmiah dibutuhkan untuk memetakan metode budidaya yang paling presisi, memantau pertumbuhan bibit secara berkala, hingga menyesuaikan karakteristik bibit dengan kondisi lingkungan tambak setempat. “Keterlibatan akademisi sangat diperlukan untuk membantu pengembangan bibit rumput laut yang unggul. Mereka membantu mengamati perkembangan bibit sekaligus menentukan metode budidaya yang paling sesuai dengan kondisi fisik dan kimia tambak masyarakat,” ucapnya, Jumat (25/9/2026).
Langkah progresif ini diambil Pemkab PPU sebagai respons atas melesatnya tren budidaya rumput laut jenis Gracilaria dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, semangat membudidayakan Gracilaria tidak hanya membara di Kecamatan Babulu, tetapi telah meluas hingga ke Kecamatan Penajam, khususnya di wilayah Kelurahan Kampung Baru dan Kelurahan Sesumpu.
Andi Traso menambahkan, terobosan ini bertujuan utama untuk mempermudah para petambak lokal dalam mendapatkan bibit berkualitas tinggi tanpa harus bergantung pada pasokan luar daerah. “Saat ini, produksi rumput laut Gracilaria di PPU sudah mencapai angka fantastis, yakni sekitar 9.000 ton per tahun. Dengan hadirnya bibit unggul hasil kolaborasi bersama Unmul ini, kami optimistis volume produksi dan mutu rumput laut PPU akan melonjak signifikan,” tambahnya.
Tidak berhenti pada pembenihan dan teknik budidaya di tambak, Dinas Perikanan PPU juga memberikan perhatian ekstra terhadap proses pascapanen. Faktor pengolahan setelah panen dinilai memegang peranan kunci dalam menentukan harga jual dan standar kualitas di pasaran.
Berdasarkan evaluasi di lapangan, masih banyak pembudidaya yang menjemur rumput laut langsung di atas tanah tanpa alas. Kebiasaan ini dapat menurunkan higiene dan mutu rumput laut akibat tercampur kotoran serta debu. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Dinas Perikanan PPU gencar melakukan pendampingan dan mengedukasi masyarakat agar beralih menggunakan fasilitas penjemuran yang lebih higienis.
“Kami terus mendorong dan mendampingi para pembudidaya agar membuat para-para sebagai media penjemuran. Dengan pengeringan yang bersih dan terangkat dari tanah, kualitas rumput laut Gracilaria asal PPU akan jauh lebih bersih, bernilai jual tinggi, dan mampu bersaing di pasar nasional maupun ekspor,” pungkasnya. (adv)