Lingkaranberita.com, PENAJAM – Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (Pemkab PPU) menegaskan komitmennya untuk menghadirkan bantuan pendidikan yang efisien dan tepat sasaran bagi para siswa di Wilayah Benuo Taka. Melalui program unggulan Kartu Penajam Cerdas (KPC), setiap peserta didik kelas I Sekolah Dasar (SD) dan kelas VII Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk tahun ajaran 2026/2027 dipastikan berhak mengantongi bantuan pendidikan sebesar Rp600 ribu per anak.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Bupati PPU, Mudyat Noor, membeberkan alasan mendasar di balik keputusan pemerintah daerah yang lebih memilih skema penyaluran tunai langsung ketimbang melakukan pengadaan fisik seragam sekolah melalui pihak ketiga.
Menurut Mudyat, pengadaan fisik seragam sekolah bagi puluhan ribu pelajar di Kabupaten PPU menyimpan risiko logistik dan teknis yang sangat tinggi. Kendala mulai dari keterbatasan kapasitas penjahit lokal, risiko keterlambatan distribusi, hingga masalah sederhana seperti kesalahan ukuran pakaian siswa, bisa menjadi beban tersendiri bagi orang tua.
“Siswa di Penajam itu sekitar 30 ribu lebih, hampir 40 ribu. Gimana cara mengukurnya, penjahitnya seberapa mampu, kalau bikin seragam bisa dua tahun baru jadi. Belum lagi kalau tukang ukurnya salah, ada yang kekecilan atau kebesaran. Makanya kita berikan dalam bentuk uang tunai, itu jauh lebih praktis dan akurat,” terang Mudyat, Jumat (18/9/2026).
Melalui bantuan tunai Rp600 ribu ini, Pemkab PPU memberikan kepercayaan dan keleluasaan penuh kepada para orang tua murid. Dengan dana transfer langsung, orang tua memiliki fleksibilitas untuk membelanjakan bantuan sesuai dengan skala prioritas dan kebutuhan spesifik sang anak.
Bantuan tersebut bebas digunakan untuk membeli seragam sekolah, sepatu, tas, maupun alat tulis secara mandiri tanpa perlu menunggu proses lelang atau pembuatan seragam yang memakan waktu lama.
“Kami berharap skema tunai ini tidak hanya mempercepat pemenuhan kebutuhan sekolah siswa di awal tahun ajaran, tetapi juga turut menggerakkan roda ekonomi lokal, khususnya para pedagang perlengkapan sekolah dan UMKM,” tutup Mudyat.(adv)