Lingkaranberita.com, PENAJAM -Warga Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) diminta untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di luar ruangan. Meskipun Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) secara resmi masih berada di tingkat aman, ancaman paparan kabut asap halus yang menyelimuti sejumlah titik wilayah PPU berpotensi mengganggu kesehatan pernapasan.
Berdasarkan pemantauan portal resmi ISPUnet milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI pada Kamis (17/9) pukul 08.00 WITA, angka ISPU PPU tercatat di level 92. Parameter dominan yang mengotori udara adalah partikel mikroskopis PM2,5.
Secara formal, angka ini menempatkan kualitas udara PPU dalam kategori sedang, yang berarti masih bisa ditoleransi oleh jaringan tubuh manusia, hewan, maupun vegetasi lingkungan.
Kendati statusnya belum masuk kategori bahaya.
Pelaksana (Plt) Kepala Dinas Kesehatan PPU, dr Lukasiwan Eddy Saputro, secara tegas mengingatkan masyarakat agar tidak lengah. Menurutnya, potensi masuknya materi polutan ke saluran pernapasan tetap tinggi apabila warga abai dalam melindungi diri secara mandiri.
“Walaupun kualitas udara masih dalam kategori sedang, masyarakat tetap perlu waspada. Kurangi aktivitas di luar rumah jika tidak mendesak. Bila harus keluar, pastikan selalu menggunakan masker,” ujar Lukasiwan.
Sebagai panduan bagi masyarakat setempat, Dinkes PPU merangkum lima langkah sehat utama untuk menangani dampak kabut asap di lapangan. Pertama pakai masker, batasi aktivitas luar, konsumsi air putih, proteksi ruangan rumah, dan kawal kelompok rentan.
Ia bilang, gunakan masker yang sesuai saat harus keluar ruangan guna menahan masuknya partikel debu halus, kurangi mobilitas di tempat terbuka, terutama pada jam-jam saat kabut asap terlihat lebih pekat, perbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi serta melembapkan area tenggorokan yang terpapar partikel udara kotor.
Rapatkan celah jendela dan pintu untuk meminimalkan masuknya asap ke dalam area hunian, berikan perlindungan ekstra kepada lansia, balita, ibu hamil, serta warga dengan riwayat asma atau ISPA.
Lukasiwan juga mengimbau agar masyarakat yang mulai merasakan keluhan fisik tidak menganggap remeh gejala awal gangguan pernapasan. “Jika muncul gejala seperti batuk yang terus-menerus, merasa sesak napas, hingga timbul nyeri dada, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Jangan menunggu hingga kondisi memburuk,” pungkasnya.(adv)