Lingkaranberita.com, PENAJAM – Sebagai wilayah penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Penajam Paser Utara (PPU) terus menunjukkan komitmen kuat dan langkah proaktif dalam menjaga kelestarian lingkungan serta kenyamanan masyarakat.
Meski Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di wilayah Benuo Taka sempat menyentuh angka 83 per 14 September 2026 dengan label biru atau kategori sedang, Pemerintah Kabupaten PPU bergerak cepat memastikan kondisi lingkungan tetap aman dan terkendali.
Berdasarkan pemantauan parameter kualitas udara dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), kenaikan ISPU tersebut dipicu oleh tingginya partikel debu halus dan asap berukuran 2,5 mikron (PM2,5). Fenomena ini disinyalir kuat merupakan imbas embusan asap kiriman dari kawasan tetangga yang sempat mengalami kebakaran cukup hebat.
Bupati PPU, Mudyat Noor, menegaskan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di internal wilayah PPU senantiasa berjalan optimal berkat kesiapsiagaan penuh seluruh personel. Sistem respons cepat yang diterapkan terbukti efektif meminimalkan dampak karhutla lokal secara konsisten.
“Kebakaran di Penajam penanganannya cepat sekali dan tidak pernah berlarut-larut melebihi satu hari. Tim di lapangan selalu sigap memadamkan potensi api walau terdapat tiga hingga tujuh titik kebakaran yang muncul dalam sehari,” ucap Mudyat, Senin (14/9/2026).
Ketangkasan dan efisiensi tim pemadam di lapangan menjadi bukti nyata keseriusan Pemkab PPU dalam melindungi ruang udara daerah. Tidak hanya mengandalkan pemadaman darat, pemerintah daerah juga berkolaborasi aktif menyikapi fenomena cuaca ekstrem dengan mendorong Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) bersama BPBD untuk memicu hujan buatan.
Melalui sinergi lintas sektor, ketangguhan personel di lapangan, serta pengawasan berkala pada parameter lingkungan, Kabupaten PPU terus membuktikan diri sebagai daerah penyangga Nusantara yang tanggap, aman, dan berkomitmen penuh pada keberlanjutan lingkungan hidup. “Semoga karhutla tak terjadi lagi, dan tak kabut asap lagi, apalagi tiap pagi,” tutup Mudyat.(adv)