Lingkaranberita.com, TENGGARONG — Menghadapi musibah kebakaran yang meluluhlantakkan tempat tinggal tidak hanya meninggalkan luka secara fisik, tetapi juga meninggalkan bayang-bayang ketakutan bagi jiwa-jiwa kecil yang mengalaminya.
Menyadari ancaman trauma jangka panjang yang mengintai anak-anak korban bencana, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) langsung bergerak cepat.
Lewat pendekatan humanis berupa kegiatan bermain dan menggambar, lembaga ini hadir menyapa dan mendampingi pemulihan psikologis puluhan anak di lokasi terdampak, Minggu (11/10/2026).
Langkah sigap ini digerakkan sebagai respons tanggap darurat pascakebakaran yang melanda wilayah Tenggarong beberapa hari sebelumnya.
Kepala DP3A Kukar, Syafliansyah, mengungkapkan bahwa pihaknya langsung menginstruksikan tim internal untuk melakukan penyisiran lapangan guna mendeteksi kebutuhan khusus anak-anak yang terdampak musibah.
“Memang pada saat selesai kebakaran, saya minta teman-teman untuk menyisir, karena biasanya ada anak-anak yang perlu kita dampingi,” ujarnya.
Dalam sesi pemulihan psikososial (trauma healing) tersebut, DP3A Kukar sengaja memilih metode kreatif yang dekat dengan dunia anak, yakni aktivitas menggambar dan permainan interaktif.
Melalui media goresan warna dan gelak tawa, anak-anak diajak untuk meluapkan emosi, mengekspresikan perasaan terpendam, serta mengalihkan memori buruk dari peristiwa kebakaran yang baru saja mereka lalui.
Syafliansyah menegaskan bahwa penanganan dini terhadap guncangan psikis sangat krusial agar tidak berubah menjadi trauma mendalam yang terbawa hingga dewasa.
“Makanya hari ini saya saksikan ada kegiatan seperti ini untuk membantu menghilangkan trauma anak-anak. Dengan bermain, menggambar, bermain seperti ini, kita harapkan traumanya bisa berkurang. Karena biasanya kalau trauma anak-anak tidak cepat ditangani, maka bisa jangka panjang,” jelas Syafliansyah.
Tidak hanya fokus pada anak-anak, DP3A Kukar juga memberikan edukasi penting kepada para orang tua yang mendampingi lokasi kegiatan.
Syafliansyah mengingatkan agar ayah dan ibu lebih peka mengenali perubahan gerak-gerik buah hati mereka.
Gejala psikologis seperti anak yang sebelumnya periang tiba-tiba berubah menjadi pendiam atau murung pascakebakaran harus disikapi secara serius agar anak segera mendapat intervensi yang tepat.
“Tapi kalau kita lihat hari ini, sepertinya anak-anak terlihat senang semua,” tambahnya melihat keceriaan peserta yang hadir.
Kegiatan pendampingan psikososial ini diikuti oleh sekitar 50 anak dari berbagai rentang usia, mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Dasar (SD), termasuk sejumlah siswa kelas III dan IV dari sekolah di sekitar lokasi kejadian.
Tingginya antusiasme peserta bahkan sempat membuat ruang kegiatan penuh sesak hingga melampaui kapasitas tempat yang disediakan.
Sebagian anak tampak sangat menikmati suasana hingga ada yang mengulang aktivitas menggambar sampai dua kali, didukung penuh oleh fasilitas alat tulis dan perlengkapan gambar yang disediakan oleh DP3A Kukar.
Melihat respons positif dan tingginya kebutuhan di lapangan, DP3A Kukar membuka peluang untuk memperluas dan melanjutkan program pendampingan ini secara berkala.
Jadwal lanjutan akan dirumuskan setelah mengevaluasi pelaksanaan hari pertama, menyusul banyaknya permintaan dari para orang tua yang menginginkan kegiatan serupa terus dihadirkan bagi anak-anak mereka.
“Sementara kita hari ini dulu melaksanakan kegiatan ini, nanti kita lihat kondisinya. Karena tadi ada permintaan juga dari ibu-ibunya, mereka ingin didampingi dengan kegiatan-kegiatan seperti ini. Nanti kita jadwalkan lagi kegiatan seperti ini, sambil kita evaluasi prosesnya,” ungkap Syafliansyah.
Melalui sinergi pendampingan yang berkelanjutan, DP3A Kukar berharap anak-anak korban kebakaran dapat segera bangkit, melupakan pengalaman pahit, serta kembali menata hari-hari mereka dengan penuh keceriaan dan tawa seperti sedia kala.
“Jadi ini kita lakukan sebagai bagian dari tugas kita, supaya anak-anak kita tidak mengalami trauma berkepanjangan,” tegasnya. “Harapannya melalui kegiatan ini, mudah-mudahan anak-anak hilang traumanya. Sehingga kita ingin anak-anak kita ceria kembali, ketawa kembali, dan bisa melupakan peristiwa yang kemarin,” pungkas Syafliansyah. (*adv/dir)