Lingkaranberita.com, PENAJAM – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) membuktikan komitmen dan kesiapantanggapannya dalam mengawal stabilitas sektor ketahanan pangan daerah.
Menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena cuaca ekstrem dan musim kemarau panjang yang melanda sejumlah sentra pertanian, Distan PPU bergerak sigap menerjunkan serangkaian langkah mitigasi taktis guna meminimalkan risiko kerugian petani dan mencegah meluasnya area gagal panen atau puso di wilayahnya.
Berdasarkan pendataan dan evaluasi komprehensif di lapangan, ancaman kekeringan sempat membayangi sebagian kecil dari total luas baku sawah Kabupaten PPU yang secara resmi tercatat sebesar 7.508 hektare sesuai penetapan Surat Keputusan ATR/BPN. Meskipun tantangan cuaca cukup dinamis, tingkat realisasi tanam tahunan di PPU sejauh ini mampu terjaga secara konsisten pada kisaran rata-rata 6.800 hektare.
Angka ini mencerminkan tingginya keaktifan dan produktivitas para petani lokal dalam menggarap lahan persawahan mereka. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Distan PPU, Gunawan, menjelaskan pihaknya secara berlanjut melakukan pemantauan intensif bersama para petugas penyuluh lapangan.
“Berdasarkan pemutakhiran laporan per Agustus, terdapat sekitar 242 hektare lahan sawah yang sempat teridentifikasi terdampak oleh dampak kemarau dengan berbagai tingkatan tingkatan kerentanan. Kategori dampak tersebut bervariasi mulai dari tingkat ringan, sedang, berat, hingga kategori puso atau gagal panen total yang tercatat seluas 13,5 hektare,” katanya, Jumat (18/9/2026).
Sementara itu, terdapat 17 hektare lahan persawahan lainnya yang saat ini masuk dalam kategori terancam. Adapun rincian luasan lahan persawahan yang dipastikan mengalami puso tersebut berada di wilayah-wilayah sentra produksi padi. Di Kecamatan Babulu, titik puso teridentifikasi di Desa Babulu Darat dengan luasan mencapai 6 hektare.
Sementara itu di wilayah Kecamatan Waru, sebaran area puso terbagi di Kelurahan Waru seluas 4 hektare dan di Desa Sasulu seluas 2,5 hektare, yang mana area persawahan tersebut berada di bawah pengelolaan kelompok tani setempat, termasuk Poktan Panca Karya.
Merespons potensi ancaman yang dapat merugikan perekonomian para petani tersebut, Dinas Pertanian PPU mengambil langkah responsif tanpa menunda waktu. Penanganan darurat langsung dieksekusi dengan mendistribusikan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa unit pompa air secara masif ke lokasi-lokasi strategis yang masih menyimpan cadangan air permukaan. Langkah teknis ini difungsikan untuk memompa dan menyalurkan pasokan air secara langsung ke petakan sawah yang mulai mengering.
“Antisipasi cepat dan terukur langsung kami laksanakan di lapangan. Bagi kawasan lahan pertanian yang masih terdeteksi memiliki pasokan atau sumber air permukaan, kami segerakan distribusi bantuan unit pompa air. Saat ini sedikitnya ada 20 unit pompa air yang telah disebarkan ke berbagai titik rawan kekeringan, di antaranya mencakup kawasan Samuluang, Desa Bangun Mulya, hingga kawasan sentra di Babulu,” tegas Gunawan.
Langkah taktis dan responsif dari jajaran pemerintah daerah ini kian menunjukkan hasil positif seiring masuknya dinamika iklim lokal beberapa hari belakangan. Tingginya intensitas curah hujan yang turun dan tercatat berada di atas angka 200 mm menjadi faktor pendukung utama yang membantu memulihkan pasokan air lahan persawahan.
Pihak Distan PPU menyatakan optimismenya bahwa sinergi antara intervensi bantuan alat dari pemerintah dan pembasahan alami dari curah hujan ini akan efektif menyelamatkan sisa lahan seluas 17 hektare yang sempat terancam puso, sekaligus menjaga kontinuitas produksi beras lokal Penajam Paser Utara tetap aman dan berkelanjutan.(adv)