Lingkaranberita.com, PENAJAM – Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengadakan kunjungan lapangan ke kolam budidaya Ikan Nila Salin (Nilasa) di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (10/10). Kegiatan ini melibatkan 30 peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang perikanan budidaya. Kunjungan tersebut juga merupakan kolaborasi dengan Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya (BPTPB) Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kepala Diskan Kabupaten PPU, Rozihan Azward turut mendampingi peserta selama kegiatan.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Lingkungan Musakkar menjelaskan, bahwa kunjungan ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas tentang teknik budidaya Ikan Nilasa.
“Para peserta yang berasal dari tujuh Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Benuo Taka (sebutan PPU) diharapkan dapat memahami lebih baik materi yang telah disampaikan sebelumnya,” ujarnya saat dihubungi media ini melalui sambungan seluler, Kamis (10/10).
Dirinya menyebutkan, dalam bimtek ini, peserta diberikan pengetahuan tentang berbagai media budidaya, termasuk kolam beton dan metode bioflok dengan terpal bulat. Musakkar juga menyoroti isu strategis dalam budidaya ikan, seperti efisiensi biaya pakan dan pengelolaan kualitas air. Musakkar menekankan, metode budidaya bioflok menjadi focus kegiatan. Sebab, menawarkan solusi untuk daerah yang kekurangan lahan budidaya akibat alih fungsi lahan.
“Dengan bioflok, kami bisa menjaga kualitas benih dan mengurangi penggunaan pakan yang berlebihan,” jelas Musakkar.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa penerapan metode ini membutuhkan pengawasan ketat.
“Ketersediaan oksigen sangat penting, sehingga aliran listrik yang stabil menjadi krusial,” katanya.
Selain itu, metode bioflok juga memanfaatkan mikroorganisme sebagai pakan alami, yang dapat menekan kebutuhan pakan secara signifikan dibandingkan dengan kolam beton. Selama kunjungan, para peserta diajak mengelilingi lokasi budidaya yang sudah berhasil memproduksi komoditas Nilasa secara sukses.
“Perawatan kolam beton mirip dengan pengelolaan ikan di alam,” imbuh Musakkar.
Musakkar juga menambahkan bahwa peserta tampak antusias terhadap sistem bioflok, yang memiliki masa produksi singkat—sekitar tiga hingga empat bulan dari bibit hingga panen. “Analisis menunjukkan bahwa penerapan bioflok lebih menguntungkan,” tuturnya.
Dengan kegiatan ini, diharapkan para pembudidaya dapat menerapkan ilmu yang didapat untuk meningkatkan hasil budidaya di Kabupaten PPU. (adv/kominfoppu)