Lingkaranberita.com, TENGGARONG – Arbizz Space disiapkan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri untuk naik kelas dari sekadar kawasan kuliner menjadi salah satu titik penggerak ekonomi kreatif daerah.
Keberadaan puluhan tenant di kawasan tersebut dinilai bisa menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk berhadapan langsung dengan pasar. Bukan hanya menjual makanan atau produk, tetapi juga menguji bagaimana sebuah usaha dikelola dan diterima konsumen.
Aulia ingin Arbizz Space menjadi tempat bertemunya pelaku UMKM, konsumen, komunitas dan berbagai aktivitas kreatif masyarakat.
Menurutnya, UMKM tidak akan berkembang hanya karena mengikuti pelatihan atau mendapatkan bantuan pemerintah. Pelaku usaha perlu memiliki ruang untuk mempraktikkan kemampuan mereka dalam situasi bisnis yang sebenarnya.
Di tempat seperti Arbizz Space, pelaku usaha bisa melihat langsung respons konsumen terhadap produk yang ditawarkan.
Dari sana, mereka dapat mengevaluasi banyak hal, mulai dari rasa dan kualitas produk, harga, kemasan, pelayanan, kebersihan, cara berkomunikasi dengan pelanggan hingga membangun identitas merek.
“Ketika pelaku UMKM bertemu langsung dengan konsumen, mereka bisa belajar dari pasar. Ini yang penting, karena usaha tidak cukup hanya bisa memproduksi, tetapi harus mampu membaca kebutuhan konsumennya,” kata Aulia.
Karena itu, Arbizz Space menurut Aulia memiliki fungsi yang lebih besar daripada sekadar tempat berjualan.
Kawasan tersebut diharapkan berkembang menjadi ruang promosi produk lokal, tempat berkumpul komunitas, aktivitas keluarga sekaligus panggung bagi pelaku ekonomi kreatif Kukar.
Rencana pengembangan Arbizz Space juga tidak dilepaskan dari digitalisasi UMKM.
Aulia ingin kawasan fisik tersebut berjalan beriringan dengan KukarGO, platform digital yang baru diluncurkan Pemkab Kukar untuk menghimpun dan mempromosikan produk UMKM lokal.
Ia membayangkan keduanya bekerja dalam satu ekosistem. Arbizz Space menjadi tempat konsumen melihat dan mencoba produk secara langsung. Sementara KukarGO menjadi pintu bagi konsumen untuk kembali menemukan produk tersebut melalui kanal digital.
“Saya ingin KukarGO dan Arbizz Space saling menguatkan. Arbizz Space menjadi etalase fisik, KukarGO menjadi etalase digital. Pengunjung yang menemukan produk di Arbizz Space harus dapat menemukannya kembali secara digital. Sebaliknya, produk yang ditemukan melalui KukarGO harus memiliki peluang untuk dipromosikan dalam berbagai kegiatan dan ruang usaha yang tersedia. Ketika ruang fisik dan digital terhubung, kita sedang membangun model perdagangan lokal yang lebih adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen,” pintanya.
Model tersebut membuat keberadaan UMKM tidak lagi sepenuhnya bergantung pada konsumen yang datang ke satu lokasi.
Produk yang awalnya dikenal melalui kunjungan ke Arbizz Space dapat dipromosikan kembali secara digital. Begitu pula produk yang ditemukan melalui KukarGO bisa diarahkan untuk tampil dalam kegiatan atau ruang promosi yang tersedia secara offline.
Aulia juga melihat penguatan UMKM tidak cukup dilakukan dari sisi pemasaran. Menurutnya, pelaku usaha membutuhkan kelembagaan ekonomi yang dapat membantu mereka menghadapi persoalan bahan baku, modal, distribusi hingga pemasaran.
Dalam konteks itu, koperasi didorong mengambil peran lebih besar. Koperasi tidak boleh berhenti pada urusan administrasi organisasi, tetapi harus mampu menjadi bagian dari rantai bisnis UMKM.
“UMKM yang kuat memerlukan kelembagaan ekonomi yang kuat, dan koperasi yang sehat harus mampu menjadi salah satu rumah besarnya,” ujarnya.
Skema tersebut kemudian dihubungkan dengan berbagai program penguatan ekonomi masyarakat dalam Kukar Idaman Terbaik.
Pemkab Kukar menyiapkan sejumlah instrumen yang saling berkaitan, mulai dari pendataan UMKM, legalitas usaha, peningkatan kapasitas, pembiayaan hingga pemasaran.
Program Kredit Kukar Idaman Terbaik juga diarahkan membuka akses permodalan bagi pelaku usaha mikro dan kecil, selain petani, peternak dan nelayan.
Di tingkat desa, penguatan modal koperasi dan BUMDesa diharapkan ikut memperluas perputaran ekonomi sehingga aktivitas usaha tidak hanya terkonsentrasi di kawasan perkotaan. Aulia menilai seluruh program tersebut harus bergerak sebagai satu rangkaian.
Data menjadi dasar pembinaan. Legalitas memberikan kepastian. Pembiayaan memperkuat modal. Pelatihan meningkatkan kemampuan. Arbizz Space mempertemukan pelaku usaha dengan konsumen. KukarGO memperluas jangkauan pasar. Sementara koperasi diharapkan memperkuat posisi UMKM dalam rantai ekonomi.
Karena itu, Aulia meminta perangkat daerah terkait tidak menjadikan digitalisasi sebagai program yang berdiri sendiri.
DPMPTSP dan Dinas Koperasi dan UKM Kukar diminta memastikan penggunaan KukarGO terhubung dengan pembinaan lain, termasuk pengurusan NIB, sertifikasi, standardisasi, kemasan, branding, pencatatan usaha dan literasi digital. Pendampingan juga diminta dilakukan secara aktif.
“Jangan menunggu UMKM datang ke kantor, kita harus aktif melakukan pendampingan dan jemput bola,” tegasnya.
Di sisi lain, Aulia menempatkan masyarakat sebagai bagian dari rantai penguatan UMKM. Ia meminta masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi ikut mengenalkan produk lokal ketika menemukan produk yang dinilai berkualitas.
“Saya juga mengajak masyarakat Kukar untuk menjadi bagian dari gerakan ini. Kalau produk lokal kita berkualitas, mari kita beli. Kalau produknya menarik, mari kita promosikan. Kalau ada kekurangan, mari kita berikan masukan agar pelakunya tumbuh. Membeli produk lokal bukan hanya sebuah transaksi; di dalamnya ada dukungan terhadap keluarga, tenaga kerja, pemasok bahan baku, dan perputaran ekonomi di daerah kita sendiri,” serunya.
Bagi Aulia, teknologi juga seharusnya tidak dilihat sebagai ancaman bagi usaha kecil. Marketplace, katalog digital, pembayaran digital dan media sosial justru dapat dimanfaatkan untuk mempertemukan UMKM dengan konsumen tanpa batas geografis.
Dengan arah tersebut, Arbizz Space diharapkan menjadi salah satu ruang fisik tempat produk lokal tumbuh dan bertemu pasar, sedangkan KukarGO memperpanjang jangkauannya melalui ruang digital.
Keduanya menjadi bagian dari upaya Pemkab Kukar membangun ekosistem ekonomi kreatif yang tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga mampu mendorong usaha lokal berkembang dan naik kelas. (adv/dir*)