Lingkaranberita.com, TENGGARONG — Fenomena alih profesi dadakan warga bantaran Danau Semayang, Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, Kutai Kartanegara (Kukar), bakal memasuki babak pembuktian.
Masyarakat nelayan yang memanfaatkan momen surutnya air danau saat kemarau untuk mengolah pertanian padi dengan metode tanam benih langsung (Tabela Dar) kini bersiap mengarungi masa panen raya yang dijadwalkan mulai bergulir pada awal November 2026.
Momen panen raya ini sekaligus menjawab keraguan publik di media sosial yang sebelumnya sempat skeptis terhadap keberhasilan budidaya tanaman padi di atas hamparan danau yang mengering tersebut.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengonfirmasi bahwa pemerintah daerah telah berkoordinasi intensif untuk mengawal agenda panen raya tersebut dan mengajak publik menyaksikan langsung hasil kegigihan warga Semayang.
“Kami sudah berkoordinasi. Kemungkinan dua minggu lagi kita akan melaksanakan panen raya. Melalui kesempatan ini, kami juga ingin mengundang seluruh pihak untuk bersama-sama datang ke Semayang dan menyaksikan kegiatan panen raya padi yang sempat viral,” tutur Aulia, Sabtu (31/10/2026).
Berbeda dengan kawasan persawahan irigasi teknis, aktivitas pertanian di Danau Semayang sangat tergantung pada dinamika penyusutan air danau.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar, Muhammad Rifani, menerangkan bahwa penanaman dilakukan secara sporadis oleh warga sehingga usia tanaman di setiap petak lahan tidak seragam.
“Ketika kondisi danau mulai mengering dan mereka melihat peluang untuk menanam, mereka mulai menanam. Setelah itu, tetangganya menyusul menanam. Jadi, waktunya berbeda-beda, tidak seperti persawahan yang jadwal tanamnya lebih teratur,” papar Rifani.
Dengan pola penanaman susul-menyusul ini, maraton masa panen diproyeksikan akan berlangsung secara bertahap mulai awal November, berlanjut hingga pertengahan Desember, bahkan sebagian petak lahan diperkirakan baru siap dipanen pada penghujung Desember 2026.
Fenomena pemanfaatan lahan surut ini tidak hanya terjadi di Semayang.
Praktik serupa juga ditemukan di kawasan Melintang (Kecamatan Muara Wis) yang diprediksi panen pada awal Desember, serta kawasan Desa Pela dan Jantur di anak Danau Jempang.
Guna menyokong aktivitas pertanian lokal ini, Pemkab Kukar telah mendistribusikan bantuan benih padi sebanyak 1,5 ton untuk Desa Semayang, dengan estimasi luas tanam berkisar 10 hingga 15 hektare.
Jumlah ini belum memperhitungkan penanaman swadaya yang dilakukan masyarakat setempat menggunakan benih mandiri.
Rifani menilai budidaya padi di Danau Semayang memiliki prospek pengembangan yang menjanjikan.
Selain menghemat biaya operasional karena input pertanian yang minim, kandungan endapan sedimen danau dinilai sangat subur untuk menunjang tumbuh kembang tanaman.
Meski demikian, pihak Distanak Kukar tetap akan melakukan evaluasi teknis melalui metode ubinan—mengambil sampel hasil panen pada petak satu meter persegi—guna mengukur tingkat produktivitas dan menghitung total akumulasi produksi secara ilmiah.
Pengukuran ini sekaligus untuk mendeteksi sejauh mana dampak cuaca kemarau mempengaruhi volume panen warga.
“Kita belum bisa memperkirakan pengaruh musim kemarau terhadap produksi secara keseluruhan karena masih ada beberapa lahan yang belum dipanen.
Nanti setelah panen selesai dan hasil ubinan diketahui, baru kita bisa melihat apakah terjadi penurunan produksi atau tidak,” jelas Rifani.
Panen raya mendatang dipastikan menjadi momentum krusial untuk mengukur keberhasilan praktik kearifan lokal Tabela Dar, sekaligus pembuka jalan bagi formulasi kebijakan pengembangan pertanian berbasis lahan tembolok danau di kawasan hulu Kukar pada masa mendatang. (adv/dir*)