Lingkaranberita.com, TENGGARONG — Ancaman cuaca ekstrem mulai mengintai kawasan Kutai Kartanegara (Kukar).
Seiring dengan berakhirnya masa pancaroba dan meningkatnya intensitas curah hujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar mengeluarkan peringatan kewaspadaan dini terkait potensi bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang yang mengancam permukiman warga.
BPBD Kukar menegaskan bahwa kesiapsiagaan lingkungan dari level paling bawah merupakan kunci utama dalam meminimalisasi risiko dan dampak kerugian.
Sebagai langkah taktis antisipasi, pihak BPBD kini tengah menggodok penerbitan surat edaran (SE) resmi yang akan didistribusikan kepada seluruh lapisan masyarakat, instansi pemerintah, hingga pihak swasta di Kukar.
Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, menegaskan pentingnya langkah pencegahan dini ketimbang bertindak saat bencana sudah telanjur terjadi.
Penyesuaian pedoman mitigasi ini dirancang mendesak dengan merujuk pada petunjuk teknis Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
“Kami mengajak masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta mulai melakukan pencegahan dari sekarang, baik melalui pembersihan saluran air maupun penanganan pohon yang berisiko tumbang,” ujar Sandi pada Sabtu (31/10/2026).
Sandi memaparkan bahwa pergeseran iklim dari musim kemarau panjang menuju musim hujan menuntut tingkat kewaspadaan yang jauh lebih tinggi.
Struktur tanah yang sebelumnya mengering dan mengalami retakan akibat kekeringan kini berada dalam kondisi sangat labil.
Ketika menggumpal dan diguyur hujan deras, daya serap tanah akan menurun drastis sehingga memicu risiko longsor di area lereng maupun perbukitan.
Selain itu, bahaya tersembunyi juga mengancam kawasan pemukiman padat dan jalan protokol akibat hujan deras yang disertai angin kencang.
Terjangan angin berpotensi mematahkan dahan tua serta menumbangkan pohon-pohon rindang di sekitar fasilitas publik.
Sebagai langkah pencegahan awal, BPBD mengimbau warga untuk bahu-membahu membersihkan saluran drainase dan parit dari sedimentasi maupun tumpukan sampah yang menyumbat.
Pemangkasan pohon-pohon yang berisiko roboh juga diminta segera dilakukan melalui koordinasi bersama pengurus RT, warga lokal, dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis terkait.
Mengenai penyusunan surat edaran (SE) mitigasi bencana, Sandi menyebutkan dokumen tersebut sedang difinalisasi dan ditargetkan rampung dalam waktu dua hingga tiga hari ke depan agar bisa langsung diterapkan di lapangan.
Berdasarkan analisis pemetaan musim, fase peralihan menuju musim hujan diperkirakan berlangsung hingga akhir Oktober.
Volume dan intensitas hujan diprediksi mulai tereskalasi signifikan pada pekan ketiga November 2026, hingga mencapai puncaknya pada Desember mendatang.
Kendati demikian, BPBD Kukar terus melakukan pemantauan dan koordinasi intensif bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memperbarui estimasi dinamika atmosfer serta potensi cuaca ekstrem di wilayah Kaltim.
Sandi kembali menekankan bahwa keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan drainase dan memangkas vegetasi rawan roboh adalah kunci utama keselamatan bersama.
Langkah kolektif ini diharapkan mampu menekan dampak kerusakan lingkungan serta menjaga kondusivitas Kukar selama mengarungi musim penghujan tahun ini. (adv/dir*)