Lingkaranberita.com, TENGGARONG — Suasana sore di kawasan Lapas Kelas IIA Tenggarong, Jalan Mangkuraja, Kelurahan Loa Ipuh, tampak berbeda dari biasanya, Rabu (28/10/2026). Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Aulia Rahman Basri, hadir secara khusus guna melakukan kunjungan monitoring sekaligus meresmikan beroperasinya kawasan SAE Pastarung.
Sentra terpadu ini dirancang sebagai pusat pelatihan dan pemberdayaan komprehensif bagi warga binaan, mencakup sektor pertanian, produksi pangan, hingga asimilasi keterampilan kerja. Di tengah populasi warga binaan yang mencapai sekitar 1.300 orang, kehadiran SAE Pastarung menjadi angin segar untuk membekali mereka dengan keahlian nyata sebagai bekal kembali ke tengah masyarakat kelak.
Bupati Aulia Rahman Basri menyatakan komitmen penuh Pemkab Kukar untuk membersamai langkah rehabilitasi produktif ini. Menurutnya, pembinaan di dalam lapas harus bermuara pada kesiapan mental dan ekonomi para warga binaan.
“Kita berharap tempat ini benar-benar menjadi wadah efektif untuk memberdayakan warga binaan di Lapas Tenggarong. Ketersediaan ruang dan lahan yang memadai sangat penting untuk menampung potensi besar dari ribuan warga binaan yang ada di sini,” ungkap Aulia.
Kendati geliat produksi di SAE Pastarung telah berjalan—mulai dari budidaya sayur-sayuran segar, peternakan ayam penghasil telur, hingga pembuatan tempe rumahan yang memenuhi kebutuhan konsumsi internal lapas—tantangan terbesar berikutnya adalah masalah pemasaran.
Melihat potensi besar tersebut, Bupati Aulia langsung memberikan instruksi taktis. Ia memastikan Pemkab Kukar akan memfasilitasi penyerapan hasil panen dan produksi pangan warga binaan agar memiliki pasar yang pasti dan berkelanjutan.
Salah satu skema konkret yang disiapkan adalah menyambungkan komoditas pertanian dan peternakan SAE Pastarung dengan kebutuhan dapur-dapur program strategis pemerintah daerah.
“Misalkan untuk komoditas telur, nanti bisa kita hubungkan langsung dengan kebutuhan dapur-dapur SPPG yang ada di Kabupaten Kukar. Begitu juga dengan hasil pertaniannya, kita pastikan terserap agar produk karya warga binaan di SAE Pastarung ini bisa dimanfaatkan secara langsung luas,” tegas Aulia.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Tenggarong, I Wayan Nurasta Wibawa, menyambut antusias dukungan penuh yang diberikan oleh pemerintah daerah. Ia menjelaskan bahwa aktivitas di SAE Pastarung tidak hanya berorientasi pada ketahanan pangan internal lapas, melainkan dirancang untuk menciptakan perputaran ekonomi yang sehat bagi warga binaan itu sendiri.
Melalui program kerja yang terstruktur, warga binaan yang terlibat aktif dalam proses produksi berhak mendapatkan premi atau upah sesuai ketentuan yang berlaku. Hal ini diharapkan mampu membangun etos kerja sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri.
Namun, Wayan tidak menampik bahwa untuk melangkah ke skala ekonomi yang lebih luas, pihaknya membutuhkan uluran tangan berbagai pihak, terutama dalam hal perluasan jaringan pasar dan publikasi.
“Sayur-sayuran yang kami tanam sudah dikonsumsi untuk dapur lapas, begitu pula telur dan tempe. Ke depan, melalui program Simpul Berdaya, kami ingin persoalan pemasaran hasil produksi warga binaan ini bisa teratasi dengan baik lewat dukungan Pemkab Kukar dan rekan-rekan media,” tutur Wayan penuh harap.
Kehadiran SAE Pastarung kini menjadi simbol baru di Kutai Kartanegara—bahwa kesalahan di masa lalu bukanlah akhir dari segalanya, melainkan titik balik untuk merajut masa depan yang lebih mandiri, produktif, dan bermartabat. (adv/dir*)