Lingkaranberita.com, TENGGARONG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, telah menghanguskan hampir 2.400 hektare hingga pertengahan Oktober 2026. Meski demikian, perkembangan data dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan adanya penurunan luasan kebakaran.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar, Aspianur Sandi, mengungkapkan bahwa peningkatan luas karhutla paling signifikan terjadi pada Agustus 2026. Berdasarkan catatan BPBD, kebakaran pada Juli hanya mencakup sekitar 21 hektare.
Namun, angka tersebut melonjak hingga kurang lebih 1.300 hektare pada Agustus. Selanjutnya, luasan lahan yang terbakar berangsur menurun menjadi sekitar 722 hektare sepanjang September dan kembali menyusut menjadi 312 hektare hingga pekan ketiga Oktober.
“Kalau melihat data historis, Alhamdulillah ada penurunan. Dari luasan lahan yang terbakar juga terlihat penurunan dalam beberapa bulan terakhir,” kata Sandi, Jumat (23/10/2026).
Kendati tren kebakaran mulai melandai, BPBD Kukar belum mengendurkan pengawasan. Sejumlah kecamatan masih menjadi perhatian karena kejadian kebakaran berulang kali ditemukan di kawasan yang sama.
Muara Badak dan Anggana menjadi dua wilayah yang mendapat pemantauan khusus. Menurut Sandi, beberapa titik kebakaran berada di lokasi yang sebelumnya juga pernah mengalami kejadian serupa.
Situasi tersebut membutuhkan pengawasan berkelanjutan guna memastikan bara api benar-benar padam dan tidak kembali memicu kebakaran baru.
Selain kawasan pesisir, karhutla juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah hulu Kukar. Di antaranya Kecamatan Muara Wis dan Muara Muntai.
Tantangan penanganan semakin besar karena sebagian lokasi kebakaran sulit dijangkau melalui jalur darat. Kondisi geografis tersebut menjadi salah satu kendala petugas ketika melakukan pemadaman maupun pemantauan lanjutan.
Di tengah upaya pengendalian karhutla, kondisi cuaca di Kukar mulai memasuki masa peralihan menuju musim penghujan. Hujan lokal sudah mulai turun di beberapa wilayah, meskipun perubahan atmosfer masih berlangsung dinamis.
“Sekarang kita sudah masuk masa peralihan menuju musim penghujan. Beberapa wilayah sudah berpotensi mengalami hujan, tapi kondisi atmosfer masih dinamis,” jelasnya.
Sementara itu, berdasarkan hasil pemantauan sementara, BPBD Kukar mencatat sebanyak 124 titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayah tersebut.
Meski demikian, kemunculan titik panas tidak serta-merta dapat dipastikan sebagai peristiwa kebakaran. BPBD masih membutuhkan pemeriksaan dan verifikasi langsung untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan.
“Hotspot itu belum tentu kebakaran. Masih perlu kita klarifikasi terlebih dahulu karena ada beberapa titik yang harus dipastikan kondisi sebenarnya di lapangan,” tandas Sandi.
BPBD Kukar pun terus memantau perkembangan situasi, terutama di kawasan yang memiliki riwayat kebakaran berulang. Penurunan luasan karhutla diharapkan dapat terus berlanjut seiring perubahan cuaca dan upaya pengawasan di berbagai wilayah.(adv/dir)