Lingkaranberita.com, TENGGARONG – Pabrik pengolahan rumput laut di Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara (Kukar), belum bisa beroperasi penuh. Meski mesin utama telah tersedia dan pernah menjalani uji coba, fasilitas pendukung di kawasan pabrik masih perlu dituntaskan dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp10 miliar.
Kondisi tersebut membuat proyek pengolahan komoditas rumput laut yang diharapkan memberi nilai tambah bagi hasil produksi masyarakat Muara Badak belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar, Burhanuddin, mengatakan persoalan proyek saat ini bukan terletak pada ketersediaan mesin pengolahan.
Peralatan utama sudah berada di dalam bangunan pabrik. Bahkan, mesin tersebut telah sempat diuji untuk memastikan kesiapan operasional.
“Mesin kan sudah ada sebenarnya, mesinnya sudah ada, cuma karena kondisi keuangan negara sehingga ada pemangkasan anggaran,” kata Burhanuddin, Rabu (7/10/2026).
Menurut Burhanuddin, penyelesaian proyek masih menyisakan pekerjaan fisik yang penting untuk menunjang operasional mesin. Salah satunya berkaitan dengan kondisi lantai pabrik yang dinilai belum memadai untuk kebutuhan aktivitas produksi.
Selain lantai, sejumlah fasilitas penunjang lain juga masih harus dikerjakan sebelum keseluruhan sistem produksi dapat berjalan secara optimal.
“Mesinnya sudah ada tempatnya di dalam, cuma itu tadi fasilitas penunjangnya juga masih membutuhkan,” jelasnya.
Penyelesaian pekerjaan tersebut sebelumnya masuk dalam rencana penganggaran tahun ini. Namun, rencana itu tidak berjalan setelah adanya rasionalisasi anggaran.
“Seharusnya ada anggaran tahun ini untuk finishing dan fisik-fisik, cuma karena RKDPA yang tidak keluar karena pemangkasan rasionalisasi,” ujarnya.
Akibatnya, pemerintah daerah masih harus menunggu kesempatan penganggaran berikutnya untuk melanjutkan pekerjaan yang tersisa.
Burhanuddin memperkirakan dana sekitar Rp10 miliar masih diperlukan agar seluruh fasilitas pendukung dapat diselesaikan. Anggaran tersebut bukan untuk membeli mesin utama, melainkan untuk menuntaskan berbagai pekerjaan fisik dan fasilitas yang diperlukan di lingkungan pabrik.
“Mudah-mudahan tahun depan masih ada anggarannya lagi. Karena lumayan juga di situ, pabriknya sudah ada, mesinnya sudah ada, tinggal untuk finishing-nya lagi,” katanya.
Keberadaan pabrik ini sendiri diarahkan untuk memperkuat rantai pengolahan rumput laut di Kukar. Selama ini, komoditas yang dihasilkan masyarakat memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh sehingga tidak berhenti sebagai bahan mentah.
Produk yang direncanakan dari fasilitas tersebut tidak hanya berupa tepung rumput laut. Ke depan, hasil pengolahan juga diharapkan dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan.
Dengan pola tersebut, keberadaan pabrik di Muara Badak diharapkan mampu menciptakan nilai tambah di tingkat daerah. Rumput laut yang diproduksi masyarakat dapat memperoleh jalur pengolahan yang lebih dekat sebelum dikembangkan menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Namun, target tersebut masih bergantung pada penyelesaian fasilitas pabrik. Tanpa pekerjaan finishing dan sarana pendukung yang memadai, mesin yang sudah tersedia belum dapat dimaksimalkan untuk menghasilkan produk secara penuh.
Pemerintah Kukar kini berharap dukungan anggaran kembali tersedia pada tahun berikutnya sehingga pekerjaan yang tersisa dapat diselesaikan dan pabrik pengolahan rumput laut Muara Badak segera masuk tahap operasional. (adv/dir*)