KETIKA berdiri di Puncak Megasari dan memandang ke sekeliling, kita sebenarnya sedang melihat lebih dari sekadar bentang alam. Pematang-pematang tinggi yang mengurung lembah di bawahnya merupakan bagian dari dinding kaldera, sebuah cekungan besar menyerupai mangkok yang terbentuk dari letusan dahsyat pada masa lalu. Namun, sampai hari ini, kekayaan tersebut belum sepenuhnya hadir sebagai sebuah narasi yang mudah dipahami dan dinikmati sebagai satu kesatuan.
Jika cara pandang itu diperluas, jejak Ijen tidak berhenti di kawasan yang selama ini populer sebagai tujuan wisata. Di Cermee terdapat Taman Batu So’on Solor, salah satu geosite Ijen Geopark yang memperlihatkan jejak aktivitas Gunung Ijen Purba. Batu-batu yang menjulang itu bukan sekadar lanskap untuk difoto, tetapi bagian dari cerita tentang bagaimana kawasan Ijen
terbentuk. Solor menunjukkan bahwa cerita Ijen Geopark Bondowoso lebih luas daripada Kawah Ijen. Persoalannya bukan berapa banyak geosite yang dimiliki, melainkan apakah potonganpotongan cerita itu dapat dihubungkan menjadi satu pengalaman.
Di sinilah persoalan Ijen Geopark Bondowoso menjadi menarik. Bukan karena kita kekurangan objek wisata, melainkan karena banyak potensi masih dilihat sebagai tempat yang
berdiri sendiri. Padahal, jika perjalanan dimulai dari kawasan Megasari dan Plalangan, kita dapat membaca cerita yang lebih besar: tentang kaldera, kehidupan, pertanian, kopi, air, panas bumi, blue fire, dan masyarakat yang hidup di dalamnya.
Di Plalangan, kita masih menemukan penanda “Selamat Datang Blawan”. Penanda itu tentu tidak salah, tetapi menunjukkan bagaimana kawasan ini selama ini diperkenalkan: sebagai
jalan menuju Blawan, bukan sebagai bagian dari cerita besar Kaldera Ijen. Di titik ini, ada ruang untuk menghadirkan narasi yang lebih luas. Bukan untuk menghapus nama Blawan, melainkan
membacanya dalam hubungan dengan jejak geologi, lanskap, dan kehidupan di kawasan Ijen.
Heart of Ijen Caldera, bagi saya, dapat menjadi salah satu cara untuk membaca kawasan ini. Lembah di dalam kaldera bukan sekadar hamparan hijau, tetapi bagian dari cerita tentang
bagaimana letusan dan proses geologi masa lalu melahirkan ruang kehidupan bagi manusia.
Tanah vulkanik, udara sejuk, perkebunan, dan kopi yang tumbuh di lereng Ijen merupakan bagian dari hubungan panjang antara bumi dan manusia. Kopi Arabika maupun
Robusta tidak hanya dapat dijual sebagai komoditas, tetapi juga diceritakan sebagai bagian dari
lanskap tempat ia tumbuh. Dari sini, geopark dapat dibaca bukan sekadar sebagai kumpulan tempat, melainkan hubungan antarpotongan kehidupan yang membentuk sebuah cerita.
Dalam kehidupan sosial, sesuatu tidak selalu menjadi bernilai hanya karena ia ada. Manusia memberi perhatian, menghubungkan pengalaman, lalu membangun makna atas apa
yang dilihatnya. Narasi membantu kita melihat bahwa batu, kopi, sungai, air panas, dan kehidupan masyarakat bukanlah potongan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari cerita yang
saling berhubungan.
Dari sana, perjalanan dapat berlanjut menuju Kali Pait. Kawasan ini menarik untuk dibaca lebih jauh, bukan hanya sebagai sungai dengan karakter air khas, tetapi sebagai bagian
dari perjalanan memahami geologi Ijen. Bukan sekadar mengejar puncak, tetapi berjalan sambil membaca batuan, aliran air, vegetasi, dan bentang kaldera. Wisata geopark bukan hanya tentang
ke mana orang pergi, tetapi apa yang mereka pahami ketika berada di sana.
Kawah Wurung juga dapat ditempatkan dalam cerita geologi yang lebih besar tentang pembentukan kawasan Ijen. Selama ini ia lebih dikenal sebagai lanskap sabana yang indah. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat pemandangan, tetapi memperoleh alasan mengapa lanskap tersebut berbentuk seperti yang mereka lihat.
Perjalanan dapat bermuara di Blawan, yang selama ini dikenal sebagai kawasan Pemandian Air Panas. Padahal, di kawasan yang sama terdapat aliran sungai dengan air dingin
dari dua sumber, serta sumber dan kolam air panas. Dua karakter air ini menarik jika dibaca sebagai satu kesatuan lanskap bersama Air Terjun Blawan dan lingkungan sekitarnya.
Bagaimana jika Blawan tidak hanya dikenal sebagai tempat pemandian air panas, tetapi juga dibaca sebagai sebuah “Geological Spa of Ijen Geopark”? Istilah tersebut bukan nama
fasilitas yang sudah ada, melainkan tawaran cara baru membaca potensi kawasan. Bayangkan pengunjung mengalami dua sisi air Blawan: menikmati aliran sungai yang dingin, kemudian merasakan kolam air panas. Pemandian air panas pun tidak berhenti sebagai tempat berendam,
tetapi menjadi pengalaman geopark yang mempertemukan air, panas bumi, lanskap, dan
manusia.
Di titik inilah saya melihat persoalan Bondowoso. Potensi yang besar belum tentu dengan sendirinya membentuk cerita yang kuat. Berbagai tempat dapat dikenal dan dikunjungi secara
terpisah, tetapi belum tentu dipahami sebagai bagian dari hubungan yang lebih besar. Narasi penting bukan untuk menciptakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada, melainkan membantu kita
melihat hubungan di antara apa yang selama ini sudah ada.
Banyuwangi menunjukkan bagaimana sebuah nama besar dapat terus dihadirkan dalam aktivitas, promosi, dan pengalaman. Bondowoso tidak harus menirunya. Namun, perbedaan itu mengingatkan bahwa potensi tidak otomatis berbicara dengan sendirinya. Ia membutuhkan manusia yang mampu melihat, menghubungkan, dan menceritakannya.
Jika perjalanan Ijen dapat dibaca sebagai satu rangkaian dari punggung kaldera hingga kawasan pesisir, geopark tidak lagi sekadar menjadi status, tetapi ruang yang mempertemukan geologi, ekologi, budaya, pertanian, pariwisata, dan ekonomi masyarakat.
Mungkin yang menarik untuk mulai dipikirkan bukan destinasi apa lagi yang harus dibuat, tetapi bagaimana potensi yang sudah ada dapat dirangkai menjadi sebuah cerita.
Megasari, Heart of Ijen Caldera, kopi, Kali Pait, Kawah Wurung, Pemandian Air Panas Blawan, dan Air Terjun Blawan tidak harus berdiri sebagai titik-titik terpisah. Semuanya dapat menjadi
bagian dari satu perjalanan: Jejak Kaldera Ijen.
Pada akhirnya, nilai sebuah geopark tidak hanya ditentukan oleh apa yang ada di dalamnya. Nilai juga ditentukan oleh kemampuan kita membuat orang melihat hubungan di antara apa yang sudah ada. Di situlah salah satu kemungkinan menghadirkan nilai Ijen Geopark: bukan dengan menciptakan Ijen yang baru, tetapi dengan belajar membaca kembali Ijen yang
selama ini sudah dimilikinya.(bro1)