Lingkaranberita.com, Penajam, — Di balik keberanian petugas pemadam kebakaran yang kerap terlihat heroik saat menaklukkan si jago merah, ada satu hal penting yang justru minim sorotan: proses pelatihan. Tahun ini, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) hanya mampu mengirim lima orang personel ke pelatihan nasional di Ciracas, Jakarta Timur, akibat terbatasnya anggaran.
Pelatihan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pemadam Kebakaran Ciracas merupakan program strategis dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Tujuannya jelas: membentuk personel pemadam yang tidak hanya berani, tapi juga profesional dan bersertifikasi nasional. Sayangnya, biaya keberangkatan—mulai dari transportasi hingga konsumsi—ditanggung daerah. Dan itulah titik lemahnya.
“Kami sadar pelatihan ini sangat penting, tapi anggaran yang tersedia tidak memungkinkan lebih dari lima orang untuk diberangkatkan,” ujar Sonny Wijaya, Sekretaris Dinas Damkar PPU, saat ditemui di Mako, Kamis (22/5).
Menurut Sonny, idealnya 15 hingga 20 personel bisa dikirim setiap tahun agar regenerasi berjalan merata. Namun kenyataan berkata lain. Dari puluhan petugas yang sebenarnya butuh pelatihan, hanya segelintir yang bisa mendapatkan kesempatan karena keterbatasan anggaran daerah.
“Kami harus selektif, ini bukan soal siapa yang paling ingin berangkat, tapi siapa yang paling siap secara mental, fisik, dan punya potensi dikembangkan,” lanjutnya.
Pelatihan di Ciracas mencakup materi yang kompleks dan penting: teknik pemadaman di gedung bertingkat, penyelamatan di ruang sempit, hingga latihan fisik intens dan penguatan disiplin regu. Semua itu menjadi fondasi penting bagi setiap petugas damkar—terutama di era modern, ketika medan kebakaran semakin bervariasi dan menantang.
Namun, kondisi ini juga menjadi refleksi betapa pembangunan SDM sering kali menjadi sektor yang dikorbankan. Ironis, karena pada akhirnya manusia—bukan alat—yang akan berdiri paling depan saat krisis terjadi.
“Kami berharap pemerintah daerah dan DPRD bisa memberikan perhatian lebih besar dalam penganggaran ke depan. Petugas damkar tidak cukup hanya berani, mereka harus dilatih dan disiapkan secara sistematis,” tegas Sonny.
Keterbatasan ini juga mempertegas tantangan lain yang dihadapi Damkar PPU: minim personel, armada yang belum sepenuhnya aktif karena kekurangan kru, serta kebutuhan pembangunan posko tambahan di wilayah rawan.
“Investasi terbesar bukan pada alat, tapi pada orang yang mengoperasikannya. Dan pelatihan adalah awal dari semua itu,” pungkas Sonny.
Karena di setiap seragam damkar yang melawan panas dan asap, ada tanggung jawab yang harus ditopang dengan pengetahuan, keterampilan, dan latihan terus-menerus. Sayangnya, itu semua masih mahal untuk diwujudkan di Penajam.(adv/kominfoppu)