Lingkaranberita.com, Penajam — Ia berdiri diam di depan kantor polisi, tak bersuara, tak menangis, hanya tatapan kosong yang menyiratkan kebingungan. Tak ada kartu identitas, tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Namun dari gestur tubuhnya, tergambar satu hal: ia tersesat, dan ia butuh pertolongan.
Itulah awal kisah seorang remaja tuna rungu yang ditemukan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada awal Mei 2025. Keberadaannya menjadi misteri bagi banyak pihak, hingga kemudian menggerakkan rantai kemanusiaan antarlembaga dan antarprovinsi.
Dinas Sosial PPU menjadi garda terdepan dalam penanganan kasus ini. Tak butuh waktu lama, mereka langsung menurunkan tim dengan keahlian khusus dalam komunikasi visual dan penanganan kelompok rentan.
“Kami sadar ini bukan hanya soal administrasi, tapi tentang menyelamatkan hidup seseorang,” ujar Saidin, Kepala Dinas Sosial PPU.
Lewat proses asesmen yang penuh empati dan kesabaran, perlahan terkuak bahwa anak ini berasal dari Kota Waringin, Kalimantan Tengah. Tidak ada kejelasan siapa yang membawanya ke PPU atau mengapa ia ditinggalkan begitu saja, namun tujuan utama para petugas sudah jelas: memulangkannya dengan selamat.
Misi lintas batas pun dimulai. Koordinasi cepat dilakukan dengan Dinas Sosial di Kalimantan Tengah dan pihak keluarga. Pendamping sosial disiapkan untuk memastikan remaja itu tak hanya sampai ke rumah, tapi juga kembali ke pelukan orang-orang yang bisa merawatnya dengan layak.
“Kami tak ingin sekadar mengantar pulang. Kami ingin ia kembali merasa aman,” tambah Saidin.
Kisah ini adalah potret kecil dari realitas besar tentang kerentanan para penyandang disabilitas. Ia mungkin tak bisa bicara, tapi keberadaannya berbicara banyak tentang pentingnya kepedulian, sistem respons cepat, dan kerja lintas batas untuk menjaga kemanusiaan tetap hidup.
Dinas Sosial PPU menggarisbawahi pentingnya partisipasi masyarakat dalam melaporkan kasus serupa. Sebab, satu tindakan cepat bisa menjadi perbedaan antara hilang dan ditemukan, antara terlantar dan dipulangkan.
“Ini bukan tentang kami, ini tentang bagaimana masyarakat memperlakukan mereka yang paling tak bersuara,” pungkas Saidin.(adv/kominfoppu)