Lingkaranberita.com, Penajam — Di sudut-sudut rumah warga Penajam Paser Utara (PPU), suara mesin jahit mulai menggantikan keluhan pengangguran. Kuas dan sisir rias tak lagi hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi, tetapi berubah menjadi alat mengubah nasib. Gerakan ini mungkin senyap, tapi dampaknya nyata: perempuan dan pemuda lokal pelan-pelan bangkit lewat keterampilan tangan mereka sendiri.
Program pelatihan menjahit dan tata rias yang digagas oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) PPU bukan sekadar agenda tahunan. Ia telah menjelma menjadi jembatan baru bagi banyak warga, khususnya perempuan, untuk keluar dari ketergantungan ekonomi.
“Banyak ibu rumah tangga yang tadinya tidak punya penghasilan, kini bisa mandiri dari rumahnya sendiri. Ini bukan hanya pelatihan keterampilan, tapi juga pelatihan keberanian,” ujar Marjani, Kepala Disnakertrans PPU, Senin (5/5/2025).
Pelatihan yang diberikan melalui Balai Latihan Kerja (BLK) ini mengusung konsep sederhana namun kuat: keterampilan aplikatif, berbasis rumah tangga, dan langsung mengarah ke peluang usaha mikro. Mereka belajar membuat pola pakaian, menjahit, merias wajah, hingga dasar-dasar kewirausahaan yang bisa langsung diterapkan.
Salah satu wajah dari keberhasilan ini adalah Desi Andriyani (34), ibu dua anak asal Kelurahan Nenang. Sejak mengikuti pelatihan tahun lalu, ia kini membuka jasa jahit rumahan yang ramai pelanggan.
“Saya merasa percaya diri karena punya keahlian dan sertifikat. Sekarang saya bisa bantu ekonomi keluarga, sambil tetap di rumah,” kata Desi.
Namun lebih dari sekadar pelatihan teknis, program ini menjadi ruang aman dan pemberdayaan bagi banyak perempuan yang selama ini terpinggirkan dalam roda ekonomi lokal. Mereka tak harus keluar kota atau menunggu pekerjaan formal yang langka. Justru dari ruang-ruang domestik, mereka menciptakan ruang produktif baru.
Disnakertrans sendiri melihat inisiatif ini sebagai bagian dari investasi jangka panjang daerah: membangun SDM unggul dari bawah, dari kampung, dari rumah.
“Kita tidak hanya mencetak tukang jahit atau penata rias. Kita membangun generasi tangguh yang tahu cara bertahan di tengah perubahan ekonomi,” tegas Marjani.
Dengan pendanaan dari APBD dan akses terbuka bagi siapa saja yang memenuhi syarat, program ini menjadi peluang inklusif yang membuka lebih banyak pintu usaha di wilayah yang sebelumnya terbatas akses lapangan kerjanya.(adv/kominfoppu)