Lingkaranberita.com, Penajam — Nol kemiskinan ekstrem di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menjadi kabar menggembirakan. Namun di balik capaian itu, muncul pertanyaan: bagaimana mempertahankannya dalam kondisi sosial dan ekonomi yang terus berubah?
Kepala Dinas Sosial PPU, Saidin, menyebut bahwa per April 2025, data resmi menunjukkan tak ada lagi warga PPU yang tergolong dalam kategori kemiskinan ekstrem. Namun ia tidak menampik bahwa kondisi ini sangat fluktuatif dan butuh perhatian berkelanjutan.
“Hari ini kita bisa bicara nol, tapi besok angka bisa berubah kalau tidak dijaga. Ancaman seperti PHK, inflasi, atau bencana alam bisa kapan saja mendorong keluarga kembali jatuh miskin,” katanya dalam wawancara, Senin (5/5/2025).
Alih-alih berfokus pada selebrasi statistik, Saidin menekankan pentingnya membangun sistem perlindungan sosial yang adaptif dan berkelanjutan. Program bantuan seperti BLT, PKH, atau padat karya memang telah membantu mengangkat warga dari jurang kemiskinan, tapi daya tahan ekonomi keluarga masih jadi pekerjaan rumah.
“Tantangannya bukan hanya bagaimana mengentaskan, tapi bagaimana mereka tidak kembali jatuh. Itu lebih sulit,” tegasnya.
Pemerintah daerah, lanjutnya, kini mulai menggeser fokus dari bantuan langsung ke strategi pemberdayaan. Ini termasuk penguatan UMKM keluarga miskin, pelatihan keterampilan, serta fasilitasi akses jaminan sosial ketenagakerjaan.
Namun ada dimensi lain yang perlu diperhatikan: ketahanan mental dan literasi ekonomi masyarakat. Menurut sejumlah pendamping sosial, banyak keluarga miskin yang setelah keluar dari kemiskinan ekstrem masih rentan secara finansial karena tidak terbiasa mengelola pendapatan secara berkelanjutan.
PPU sendiri menjadi satu dari sedikit kabupaten di Kalimantan Timur yang mendapat pengakuan nasional atas capaian ini. Tapi bagi Saidin, angka nol seharusnya bukan akhir, melainkan alarm agar strategi pengentasan kemiskinan tidak bersifat temporer.
“Kita ingin menciptakan masyarakat yang tahan guncangan. Bukan sekadar keluar dari kemiskinan ekstrem, tapi bisa hidup mandiri dan produktif,” tutupnya.(adv/kominfoppu)