Lingkaranberita.com, PENAJAM PASER UTARA – Derap pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) membawa angin perubahan besar bagi Penajam Paser Utara (PPU). Namun di balik semangat modernisasi, muncul kekhawatiran akan terpinggirkannya budaya lokal. DPRD PPU pun angkat bicara dan menegaskan pentingnya menjaga identitas budaya daerah.
Sekretaris Komisi II DPRD PPU, Jamaluddin, menyampaikan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar retorika. PPU sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) yang menjadi dasar hukum kuat untuk mempertahankan kearifan lokal.
“Perda sudah ada, tinggal bagaimana kita bersama-sama menjalankannya dengan konsisten,” ujarnya, Kamis (17/4/2025).
Menurutnya, peran kepala daerah dan partisipasi masyarakat adalah kunci agar budaya lokal tidak terkikis oleh zaman.
“Budaya itu hidup karena kita rawat bersama. Masyarakat harus jadi pelaku utama, bukan penonton,” tegas Jamaluddin.
Ia mengingatkan bahwa perubahan besar seperti hadirnya IKN akan membawa dampak sosial dan budaya. Namun tantangan ini bisa dihadapi dengan kerja kolektif: pemerintah, tokoh adat, dan warga bahu-membahu menjaga warisan leluhur.
Salah satu contoh nyata pelestarian budaya di PPU adalah Festival Adat Paser Nondoi. Ritual tradisional ini digelar setiap tahun sebagai bentuk doa dan pembersihan kampung dari energi negatif. Dulu dilakukan oleh leluhur Suku Paser, kini menjadi simbol semangat pelestarian di tengah arus perubahan.
“Modernisasi penting, tapi jangan sampai budaya kita hilang. Mari kita jaga bersama,” tutupnya. (adv/DPRD PPU)