Lingkaranberita.com, MALANG — Universitas Islam Malang (UNISMA) mengambil bagian dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dengan membawa kontribusi di bidang intelektual. Melalui UNISMA Press, kampus tersebut menerbitkan buku antologi berjudul NU Transformatif: Khidmah Keilmuan Nahdliyin untuk Indonesia dan Peradaban Dunia.
SELENGKAPNYA TENTANG UNISMA BISA MENGUNJUNGI: www.unisma.ac.id
Muktamar NU ke-35 yang berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, menjadi momentum bagi para ulama, akademisi, pengurus, tokoh masyarakat dan warga Nahdliyin untuk membahas berbagai persoalan serta arah masa depan organisasi.
Di tengah forum besar tersebut, UNISMA tidak hanya hadir melalui partisipasi sivitas akademikanya. Perguruan tinggi tersebut juga menghadirkan karya yang berisi gagasan dan refleksi akademik mengenai peran Nahdliyin dalam menghadapi perubahan zaman.
Buku NU Transformatif memuat 44 artikel yang mengangkat beragam tema. Pembahasannya tidak terbatas pada persoalan keagamaan, tetapi merambah isu pendidikan, pesantren, fikih, budaya, kesehatan, pangan, lingkungan, ekonomi, teknologi hingga tata kelola sosial.
Keragaman tersebut menunjukkan bahwa ruang pengabdian atau khidmah Nahdliyin memiliki cakupan yang luas. Tradisi keislaman dan pengalaman sosial-keagamaan dipertemukan dengan penelitian, ilmu pengetahuan dan inovasi untuk merespons persoalan yang berkembang di tengah masyarakat.
Buku tersebut turut diperkuat sejumlah tokoh akademik melalui bagian pengantar, prolog dan epilog. Kata Pengantar ditulis Prof. Dr. H. Ainun Na’im, Ph.D., M.B.A., sementara Prolog disampaikan Prof. Drs. H. Junaidi Mistar, M.Pd., Ph.D. Adapun bagian Epilog ditulis Prof. Dr. Ir. Agus Sugianto, S.P., M.P.
SELENGKAPNYA TENTANG UNISMA BISA MENGUNJUNGI: www.unisma.ac.id
Gagasan utama yang ditawarkan buku ini menempatkan transformasi NU bukan sebagai upaya meninggalkan akar tradisi. Sebaliknya, perubahan dipandang sebagai cara untuk menjaga nilai dan khazanah Nahdliyin agar tetap relevan di tengah dinamika masyarakat.
Dalam perspektif tersebut, tradisi menjadi fondasi, sedangkan ilmu pengetahuan menjadi instrumen untuk menghadapi masa depan. Khidmah keilmuan pun diharapkan tidak berhenti pada diskusi dan wacana, tetapi berkembang menjadi penelitian, inovasi, pendidikan serta program pemberdayaan yang memberikan manfaat langsung.
Bagi UNISMA, penerbitan buku melalui UNISMA Press menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya literasi dan tradisi intelektual di lingkungan Nahdliyin.
Perguruan tinggi dinilai memiliki peran penting dalam mempertemukan nilai-nilai keislaman dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta kebutuhan masyarakat. Dari pertemuan tersebut diharapkan lahir gagasan yang tidak hanya relevan secara akademik, tetapi juga mampu menjawab tantangan nyata.
Momentum Muktamar ke-35 NU menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi sekaligus melihat arah perjalanan organisasi ke depan. Dalam konteks tersebut, NU Transformatif hadir sebagai salah satu kontribusi pemikiran untuk memperluas pembahasan mengenai masa depan khidmah keilmuan Nahdliyin.
Perubahan sosial, perkembangan teknologi dan tantangan peradaban menjadi sejumlah persoalan yang membutuhkan respons berbasis pengetahuan. Melalui karya tersebut, UNISMA berupaya menegaskan bahwa tradisi dan transformasi dapat berjalan beriringan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat, Indonesia, dan dunia.(Bro1/adv)
SELENGKAPNYA TENTANG UNISMA BISA MENGUNJUNGI: www.unisma.ac.id