Lingkaranberita.com, Penajam – Di balik deburan ombak dan pasir putih yang membentang di pesisir Penajam Paser Utara (PPU), tersembunyi peluang emas bagi kemajuan ekonomi daerah. Namun hingga kini, potensi tersebut belum tergarap optimal. Sektor wisata pantai dinilai bisa menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) bernilai miliaran rupiah—jika dikelola dengan strategi yang tepat.
Anggota DPRD PPU, Jamaluddin, menyoroti dua kawasan yang disebut sebagai “primadona tertidur”: Pantai Sipakario Nipah-Nipah dan Pantai Tanjung Jumlai. Menurutnya, kedua lokasi itu punya daya tarik alam dan historis yang kuat, namun masih kekurangan sistem pengelolaan yang terstruktur dan profesional.
“Kita punya pantai yang indah dan sudah dilengkapi sebagian fasilitas dari pemerintah. Tapi tanpa manajemen yang serius, nilai ekonominya hanya akan jadi potensi yang terus tertunda,” ungkap Jamaluddin, Kamis (17/4/2025).
Ia mengingatkan, sejarah mencatat bahwa kegiatan seperti pesta pantai di tahun 1996 pernah menyumbang retribusi hingga lebih dari Rp6 juta—angka yang saat itu sangat besar. Kini, dengan teknologi digital, sistem tiket elektronik, dan media promosi, potensi itu bisa melonjak berkali lipat.
“Kalau kita modernisasi cara kerja, bukan mustahil PAD dari wisata pantai bisa menembus miliaran rupiah. Ini bukan mimpi, tapi butuh keseriusan dan kemauan politik dari pemerintah daerah,” tegasnya.
Jamaluddin menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat lokal. Ia menyebut kunci sukses pengelolaan wisata ada pada komunikasi yang jelas, terutama dalam menyosialisasikan fungsi retribusi sebagai kontribusi untuk kebersihan, fasilitas umum, dan pelayanan wisata yang lebih baik.
“Retribusi bukan pajak sembarangan. Itu imbal balik atas layanan. Kalau masyarakat paham, mereka akan mendukung. Tapi ini harus disampaikan dengan pendekatan yang edukatif dan transparan,” ujarnya.
Menurutnya, masa transisi pemerintahan adalah saat yang tepat untuk memulai gebrakan di sektor pariwisata. Dengan komitmen kepemimpinan baru, peluang menjadikan wisata pantai sebagai salah satu pilar ekonomi PPU bisa segera direalisasikan.
“Pariwisata bisa jadi wajah baru ekonomi kita. Tidak melulu bergantung pada Dana Bagi Hasil. Kita bisa mandiri jika mengelola aset kita sendiri dengan cerdas,” tandasnya.
Bagi Jamaluddin, wisata pantai adalah lebih dari sekadar tempat rekreasi. Ia adalah ladang kesejahteraan, lapangan kerja, dan cerminan identitas daerah. Saatnya PPU berhenti hanya bermimpi dan mulai menggali emas yang ada di pesisirnya.
“Pantai bukan cuma tempat bersantai, tapi juga peluang ekonomi. Jangan sampai potensi ini terus jadi wacana. Sekarang saatnya bergerak,” tutupnya.(adv/DPRD PPU)