lingkaranberita.com, Penajam — Dunia pendidikan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menghadapi tekanan serius. Tak hanya kekurangan tenaga pengajar akibat gelombang pensiun, digitalisasi pembelajaran pun terhambat oleh efisiensi anggaran. Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) PPU menyatakan telah mengambil langkah strategis, meski tantangan masih menggunung.
Kekurangan Guru: Masalah Lama yang Makin Mendesak
Kepala Disdikpora PPU, Andi Singkerru, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya tengah berjibaku menanggulangi kekurangan tenaga pengajar. Meski telah dilakukan pengangkatan guru honorer, tahun 2025 menjadi tahun kritis karena sebanyak 38 guru akan memasuki masa pensiun.
“Kami sudah menutup sebagian kekosongan melalui pengangkatan guru honorer. Namun, tahun ini kami menghadapi fakta bahwa 38 guru akan pensiun. Jika tidak segera diantisipasi, proses belajar-mengajar di sekolah bisa terganggu,” jelas Andi saat diwawancarai, Selasa (23/4).
Ia menegaskan, solusi jangka pendek seperti mengarahkan guru untuk mengajar rangkap bukanlah langkah yang ideal.
“Kami tidak ingin pembelajaran menjadi tidak efisien. Mengajar rangkap bisa menurunkan kualitas pendidikan karena beban kerja guru akan berlipat,” tambahnya.
Laptop untuk Guru: Program Digitalisasi yang Belum Merata
Di sisi lain, program digitalisasi pendidikan yang menjadi bagian dari visi pendidikan modern di PPU juga mengalami hambatan. Menurut Andi, sejak tahun 2024 pihaknya telah mulai mendistribusikan laptop kepada guru-guru pengajar, namun belum secara menyeluruh.
“Kami memastikan laptop yang diberikan berkualitas agar benar-benar bisa digunakan secara maksimal dalam proses belajar mengajar. Arahan itu sudah kami sampaikan kepada para kepala bidang,” ujar Andi.
Sayangnya, pengadaan laptop tahun ini melalui anggaran APBD murni dibatalkan akibat kebijakan efisiensi anggaran. Mengenai kemungkinan dilanjutkan melalui APBD Perubahan, Andi belum dapat memberi kepastian.
“Untuk sekarang, fokus kami bergeser pada pembangunan ruang kelas baru yang lebih mendesak,” katanya.
Prioritas Pembangunan: Ruang Kelas Lebih Mendesak dari Digitalisasi
Andi mengakui bahwa meskipun digitalisasi merupakan bagian penting dari kemajuan pendidikan, kondisi di lapangan memaksa Disdikpora PPU untuk mengutamakan infrastruktur fisik terlebih dahulu.
“Digitalisasi memang penting. Tapi di sisi lain, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa banyak sekolah masih kekurangan ruang kelas. Ini yang jadi prioritas kami saat ini,” ujar Andi.
Ia juga menekankan pentingnya literasi teknologi baik bagi guru maupun siswa. “Suka tidak suka, guru dan siswa harus mulai melek teknologi. Dunia pendidikan tidak bisa tertinggal dalam transformasi digital,” pungkasnya.
Tantangan yang Menanti Solusi
Dinas Pendidikan PPU saat ini berada di persimpangan antara kebutuhan mendesak dan visi jangka panjang. Kekurangan tenaga pengajar, minimnya sarana digital, serta keterbatasan ruang belajar menjadi tantangan yang harus dijawab dengan kolaborasi lintas sektor, perencanaan matang, dan dukungan kebijakan yang berpihak pada pendidikan.(adv/kominfoppu)