lingkaranberita.com, PENAJAM — Di balik kemenangan besar SMAN 3 PPU pada Lomba Karya Tulis Ilmiah “MIS BAPER” Serial Skrip 2025, muncul percakapan yang lebih luas: bagaimana literasi ilmiah menjadi benteng penting bagi siswa di era distraksi digital.
Suciati, guru pendamping SMAN 3 PPU, menyebut kompetisi ini bukan sekadar ajang mencari predikat juara, tetapi sarana untuk melatih pola pikir riset siswa yang kini hidup di tengah gempuran informasi cepat.
“Literasi bukan cuma baca dan tulis. Ia melatih siswa melihat masalah secara objektif dan mencari alternatif solusi. Ini kemampuan yang sangat dibutuhkan ketika banyak pekerjaan mulai beralih ke otomatisasi,” katanya.
Menurutnya, kemampuan meneliti bukan hal yang tumbuh instan. Siswa belajar mengamati masalah, melakukan analisis, menyusun argumen, lalu memastikan gagasannya dapat dipertanggungjawabkan. Di era digital yang serba instan, latihan seperti ini menjadi semakin penting.
Suciati juga berharap program literasi seperti “MIS BAPER” tidak berhenti pada satu tahun penyelenggaraan, tetapi diperluas dengan format baru yang dapat menampung minat siswa yang makin beragam.
“Anak-anak hari ini tumbuh dengan media sosial. Mereka butuh ruang yang mengarahkan energi kreatifnya ke hal produktif. Lomba seperti ini memberi mereka kesempatan fokus dan berkembang,” tambahnya.
Program “MIS BAPER” sendiri dirancang Dispusip PPU sebagai wahana pelatihan riset sejak dini. Melalui kompetisi ini, siswa diperkenalkan pada dunia penelitian secara sistematis—mulai dari pencarian masalah, pengolahan data, hingga penyajian gagasan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan antusiasme peserta yang tinggi dan hasil karya yang semakin matang, penyelenggara berharap inisiatif literasi seperti ini dapat menjadi pintu masuk lahirnya generasi Penajam Paser Utara yang kritis, percaya diri, dan siap bersaing di masa depan.(adv/kominfoppu)