Lingkaranberita.com, Penajam — Stadion Penajam bergemuruh bukan karena pertandingan besar, melainkan karena semangat ribuan warga yang memadati penutupan Teknologi Tepat Guna (TTG) 2025, Sabtu malam (3/5/2025). Ajang tahunan ini tidak hanya menampilkan teknologi sederhana, tapi juga menyuarakan harapan besar: menjadikan kearifan lokal sebagai motor utama kemajuan daerah.
Wakil Bupati Penajam Paser Utara (PPU), Abdul Waris Muin, menegaskan bahwa TTG bukan sekadar seremoni atau pameran sesaat, melainkan bagian dari strategi pembangunan jangka panjang yang menyatu dengan identitas masyarakat.
“Teknologi tepat guna adalah jalan kita untuk mandiri. Ini bukan soal canggih atau mahal, tapi soal relevan, berdampak, dan berbasis pada kekuatan kita sendiri,” tegas Waris dalam sambutannya yang penuh semangat.
Inovasi yang Bersumber dari Akar Rumput
Beragam alat dan teknologi yang lahir dari tangan masyarakat desa dipamerkan dalam TTG 2025. Mulai dari mesin pengolah limbah rumah tangga hingga alat pertanian hemat energi, semua dirancang untuk menyelesaikan masalah nyata sehari-hari—dengan biaya murah dan daya guna tinggi.
Tidak sedikit inovasi yang menyedot perhatian karena orisinalitas dan potensinya untuk dikembangkan lebih lanjut, bahkan dikomersialisasikan. TTG menjadi panggung inspiratif bagi para inovator desa yang selama ini bekerja dalam senyap.
Dari Pameran Menuju Aksi Nyata
Tak berhenti di panggung pameran, TTG 2025 juga menghadirkan sesi evaluasi dan diskusi intensif antar peserta, pelaku UMKM, dan mitra pemerintah. Di sinilah komitmen Pemerintah Kabupaten PPU ditegaskan: mendampingi, mengembangkan, dan memastikan bahwa inovasi lokal bisa menjadi solusi berkelanjutan.
“Kita tidak ingin inovasi ini selesai di pameran. Kita ingin dia hidup, tumbuh, bahkan bisa diekspor,” ujar Waris.
PPU Siap Jadi Laboratorium Inovasi Lokal Kalimantan
Sebagai daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), PPU sedang berada di persimpangan penting. Bagi pemerintah setempat, mengembangkan inovasi berbasis lokal adalah cara paling efektif agar masyarakat tidak tertinggal dalam proses transformasi besar-besaran yang sedang berlangsung.
Melalui TTG, PPU menunjukkan bahwa teknologi tidak harus rumit untuk bisa mengubah hidup. Dan bahwa desa, jika diberi ruang dan dukungan, bisa menjadi pusat inovasi yang mendunia.
Penutupan TTG 2025 bukan akhir, tapi awal dari perjalanan panjang menuju PPU yang mandiri, kreatif, dan berdaya saing tinggi—dari desa, untuk dunia.(adv/kominfoppu)