Penajam, Lingkaranberita.com – Ketika dunia pendidikan masih sibuk mengejar angka-angka akademik, sebuah sekolah menengah pertama di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, diam-diam menemukan jalur berbeda menuju prestasi global: olahraga bernama pickleball.
Tiga siswa dari SMP Negeri 21 PPU baru saja mencetak sejarah kecil namun berarti besar. Di tengah ketatnya persaingan internasional, mereka menyabet tiga emas, satu perak, dan satu perunggu dalam Kejuaraan Dunia Pickleball yang digelar di Bali. Bukan dari sekolah olahraga, bukan pula dari kota besar—tapi dari institusi pendidikan biasa yang menaruh harapan luar biasa pada olahraga alternatif.
Olahraga ‘Asing’ yang Menjadi Rumah Bagi Potensi Terpendam
Pickleball, olahraga yang memadukan unsur tenis, badminton, dan pingpong ini, nyaris tak dikenal publik luas di Indonesia. Namun bagi siswa SMPN 21 PPU, olahraga ini bukan sekadar pilihan ekskul. Ia adalah ruang tumbuh, tempat anak-anak daerah menemukan identitas baru mereka: sebagai atlet dunia.
Pelatih sekaligus guru olahraga, Stella Dewi Rita, menyebut bahwa pickleball membuka ruang inklusi dalam dunia pendidikan. “Tidak semua anak unggul di matematika. Tapi semua anak punya potensi. Pickleball memberi mereka panggung untuk tampil, percaya diri, dan bersaing sehat,” jelasnya.
Dari Sekolah Pinggiran Menuju Model Pembinaan Bakat Non-Akademik
Alih-alih hanya fokus pada nilai ujian nasional, SMPN 21 mulai menerapkan pendekatan pendidikan holistik. Pickleball dijadikan sarana pembinaan karakter sekaligus pendorong semangat belajar. Anak-anak yang awalnya pemalu, bahkan sering absen, kini justru jadi panutan setelah terjun ke lapangan pickleball.
Pihak sekolah bahkan merancang strategi jangka panjang bersama komunitas olahraga untuk memperluas pengaruh positif ini ke sekolah lain. Mulai dari membentuk klub pelajar kabupaten, menggelar turnamen antar-sekolah, hingga mengusulkan anggaran untuk pelatih profesional dan fasilitas berstandar internasional.
Olahraga sebagai Bahasa Baru dalam Pendidikan Daerah
Keberhasilan siswa SMPN 21 PPU menjadi sinyal kuat bahwa olahraga—apalagi yang masih jarang digeluti—dapat menjadi pintu masuk baru bagi afirmasi pendidikan di daerah. Ini bukan sekadar soal menang lomba, tapi tentang bagaimana anak-anak dari wilayah non-unggulan bisa berbicara dengan dunia lewat cara mereka sendiri.
“Kami ingin jadi contoh bahwa prestasi bukan milik kota besar. Bukan pula milik mereka yang punya segalanya sejak awal. Prestasi bisa datang dari lapangan sederhana di ujung kabupaten, selama ada niat, kerja keras, dan dukungan dari sekitar,” ujar Stella.(adv/kominfoppu)