Lingkaranberita.com, Kaubun – Sebuah perubahan megah terjadi di Kecamatan Kaubun, di mana lahan sawah tak lagi hanya menjadi tempat untuk bercocok tanam padi, tetapi juga menawarkan pengalaman wisata yang menarik dan mendidik.
Inilah yang ditawarkan oleh Agrowisata Sawah Bhuanasari di Jalan Danau Batur, Desa Bumi Rapak, yang baru-baru ini dirasmikan oleh Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman pada Kamis (1/2/2024).
Didukung oleh anggaran Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Ganda Alam Makmur (GAM), agrowisata ini tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan pendapatan petani tetapi juga sebagai wadah pendidikan dan rekreasi. Dikelola oleh kelompok tani (Poktan) Bhuana Sari dengan luas tanah mencapai 32 hektare, tempat ini menjadi bukti nyata kolaborasi antara sektor swasta dan masyarakat untuk mengembangkan potensi lokal.
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman menyambut baik inisiatif ini, mengakui bahwa pemanfaatan sawah sebagai objek wisata memiliki dampak positif dalam meningkatkan pendapatan petani. Dia juga mengapresiasi kontribusi PT GAM dalam membangun fasilitas seperti jalan, irigasi, dan gazebo melalui program CSR mereka.
Namun, Sulaiman juga menyadari bahwa masih ada ruang untuk perbaikan dan pengembangan lebih lanjut. Dia menekankan perlunya kerjasama antara berbagai pihak, termasuk Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Badan Penyuluh Pertanian (BPP) Kaubun, dan PT GAM, untuk memperbaiki dan melengkapi fasilitas serta infrastruktur yang ada.
Selain itu, Sulaiman juga memaparkan visinya untuk masa depan Agrowisata Sawah Bhuanasari, termasuk penyediaan sepeda sewa bagi pengunjung, pembangunan parit irigasi yang menarik, kolam pemancingan ikan, dan penanaman bunga di sekitar sawah untuk meningkatkan daya tarik visual.
Tidak hanya sebagai tempat rekreasi, Agrowisata Sawah Bhuanasari juga diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat sekitar. Sulaiman menekankan pentingnya pengembangan UMKM lokal di area tersebut, serta potensi bagi pelaku usaha untuk berjualan di lokasi agrowisata.
Melalui penerapan retribusi masuk, pengelola agrowisata berencana untuk memperoleh pendapatan tambahan yang dapat digunakan untuk pembelian peralatan pertanian dan pendidikan. Selain itu, mereka juga berupaya menjalin kerjasama dengan Dinas Pendidikan untuk menghadirkan program wisata edukasi bagi anak-anak.
Dengan demikian, Agrowisata Sawah Bhuanasari tidak hanya menjadi destinasi wisata yang menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran dan pengembangan ekonomi lokal yang berkelanjutan. (adv/Kutim)