Lingkaranberita.com, LOMBOK UTARA — Universitas Islam Malang (UNISMA) melalui hibah riset KONEKSI (Knowledge Partnership Platform Australia-Indonesia) mulai menguji coba Modul Ajar Tematik Terpadu berbasis kearifan lokal Lumbung Commoning di sejumlah sekolah dasar di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.
SELENGKAPNYA TENTANG UNISMA BISA MENGUNJUNGI: www.unisma.ac.id
Uji coba yang berlangsung 4 Agustus 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan pembelajaran transformatif yang mengintegrasikan budaya Sasak dengan pendidikan karakter dan kemampuan literasi siswa.
Di SDN Mumbulsari 2, guru model Candra Putri Ningsih menerapkan modul kelas 2 bertajuk “Suaraku Tentang Kebun”. Siswa menunjukkan kemampuan berpikir kritis dalam memahami konsep lokal seperti Roah atau syukuran kolektif serta fungsi Berugaq sebagai ruang publik untuk berdiskusi.
Dosen pendamping UNISMA, Ari Ambarwati, bersama observer guru Sabri dan Uswatun, mencatat penggunaan bahasa daerah efektif membantu siswa memahami konsep budaya lokal. Namun, pembelajaran masih menghadapi tantangan, terutama manajemen kelas dan kemampuan membaca sebagian siswa.
Sementara di SDN Anyar 2, guru model Emi Fujiwati menguji modul kelas 1 dengan pendekatan Project-Based Learning (PBL). Pembelajaran yang dikemas melalui aktivitas bermain mendapat antusiasme tinggi dari siswa. Integrasi budaya lokal dinilai mampu memperkuat pemahaman jati diri sejak dini, meski membutuhkan pengaturan waktu yang lebih fleksibel.
Kepala SDN Mumbulsari 2 Sirajudin dan Kepala SDN Anyar 2 Made Suwandi menyambut positif pelaksanaan program tersebut dan berharap dapat dilanjutkan selama satu semester. Menurut mereka, penguatan budaya lokal merupakan bagian penting dalam pendidikan karakter.
SELENGKAPNYA TENTANG UNISMA BISA MENGUNJUNGI: www.unisma.ac.id
Ketua Tim Peneliti KONEKSI UNISMA, Dr. H. Muhammad Yunus, M.Pd., mengatakan fase implementasi merupakan tahap penting untuk menguji efektivitas modul secara langsung di sekolah. Modul tersebut disusun melalui proses co-design dengan melibatkan pemangku adat, tokoh masyarakat, aktivis perempuan, serta kelompok disabilitas guna memastikan prinsip inklusivitas GEDSI.
“Pada kelas tinggi, implementasi cenderung lebih lancar. Sementara kelas rendah membutuhkan strategi yang lebih matang agar kearifan lokal Sasak dapat terinternalisasi tanpa mengabaikan penguatan literasi dasar siswa,” ujar Muhammad Yunus yang juga Wakil Rektor III UNISMA.
Riset yang didanai Pemerintah Australia tersebut diharapkan menghasilkan model pembelajaran dasar yang inklusif, kontekstual, dan berakar pada kearifan lokal masyarakat Sasak di Nusa Tenggara Barat.(adv)
SELENGKAPNYA TENTANG UNISMA BISA MENGUNJUNGI: www.unisma.ac.id