Lingkaranberita.com, MALANG – Tim peneliti Universitas Islam Malang (UNISMA) mendampingi guru dari lima sekolah dasar di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), dalam menyusun modul ajar berbasis proyek yang mengintegrasikan kearifan lokal Lumbung Commoning Sasak. Pendampingan berlangsung pada 19–23 Mei 2026 sebagai bagian dari riset internasional yang didanai program kemitraan Indonesia–Australia, KONEKSI 2026–2027.
SELENGKAPNYA TENTANG UNISMA BISA MENGUNJUNGI: www.unisma.ac.id
Penelitian bertajuk Transformative Learning in NTB: A Project-Based Collaborative Model for Primary Education Grounded in Lumbung Commoning diketuai Mohammad Yunus dengan anggota Mahayu Woro Lestari, Siti Asmaniyah Mardiasih, Ari Ambarwati, Hamiddin, Imam Wahyudi Karimullah, dan Durrotun Nasihah.
Sebanyak 50 guru mengikuti Workshop Training of Trainers (ToT) untuk menyusun modul ajar yang mengintegrasikan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Pendidikan Pancasila, dan Pendidikan Agama berdasarkan Capaian Pembelajaran (CP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP). Program ini dilaksanakan di SDN Anyar 1, SDN Anyar 2, SDN Mumbulsari 2, SDI Terpadu Al Maarif Darussalam, dan SDI Hidayaturrahman NW.
Co-investigator penelitian, Prof. Ania Lian, Ph.D., menekankan pentingnya pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan dan kesiapan emosional siswa.
”Guru perlu memastikan murid memahami alasan mengapa mereka mempelajari suatu materi sebelum berfokus pada penyampaian isi pembelajaran,” ujarnya.
Materi modul disusun berdasarkan nilai-nilai budaya Sasak yang telah dihimpun melalui diskusi dengan budayawan, tokoh agama, dan tokoh masyarakat pada fase pertama penelitian pada April 2026. Nilai-nilai tersebut diharapkan memperkuat pembelajaran kontekstual sekaligus menanamkan identitas budaya lokal kepada siswa.
SELENGKAPNYA TENTANG UNISMA BISA MENGUNJUNGI: www.unisma.ac.id
Guru SDN Anyar 1, Munasir, mengaku pendampingan tersebut mengubah cara pandangnya dalam menyusun modul ajar. Menurutnya, guru kini lebih menekankan pemahaman siswa terhadap tujuan belajar, bukan sekadar mengejar penyelesaian materi. Hal senada disampaikan Raehanun, guru SDI Terpadu Al Maarif Darussalam, yang merasa lebih percaya diri menyusun bahan ajar setelah mengikuti pelatihan.
Ketua tim peneliti, Mohammad Yunus, mengakui pelaksanaan program menghadapi tantangan geografis karena lokasi sekolah yang berjauhan. Namun, tingginya komitmen para guru menjadi modal penting dalam menghasilkan modul ajar transformatif yang mengangkat nilai-nilai lokal seperti Mewaran dan Begibung sebagai bagian dari pembelajaran mendalam.
Setelah proses penyusunan selesai, modul ajar akan divalidasi oleh tim peneliti UNISMA dan diverifikasi bersama mitra penelitian, LP Ma’arif NTB serta Yayasan Isnawadi Bangun Negeri, sebelum diimplementasikan di sekolah.(adv)
SELENGKAPNYA TENTANG UNISMA BISA MENGUNJUNGI: www.unisma.ac.id