• SUSUNAN REDAKSI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • HOME
    • IBU KOTA NEGARA
    • AUTOMATIVE
    • FOOD & TRAVEL
    • EDUCATION
    • EKONOMI
    • HEALTH
    • LIFE STYLE
    • KRIMINAL
    • OPINI & CERPEN
    • SPORT
    • ENTERTAINMENT
  • BORNEO UPDATE
    • KALTIM
      • SAMARINDA
      • BALIKPAPAN
      • PENAJAM
      • SANGATTA
      • BONTANG
      • PASER
  • VIRAL NEWS
  • NASIONAL
No Result
View All Result
Lingkaran Berita
No Result
View All Result

Indeks Pertanaman 2,5, DPRD Dorong Petani Diedukasi

01/07/2025
in DPRD PENAJAM
0

Wakil Ketua Komisi II DPRD PPU, Sujiati.(ist)

529
VIEWS
Share on WhatsappShare on Facebook

lingkaranberita.com, PENAJAM PASER UTARA – Indeks Pertanaman (IP) 2,5 menjadi target dari Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) pada 2025. Angka ini menjadi rata-rata di tiap-tiap lahan terjadi 2,5 masa tanam dan panen dalam satu tahun.

Related Posts

Raup Kuatkan Petugas Paskibraka yang Lolos Tingkat PPU dan Kaltim

Pucuk Tertinggi Dandim PPU Berganti, Raup Muin Ajak Sinergi

Perjelas Kartu Penajam Cerdas

Sekolah Swasta Digratiskan, DPRD Minta Data Lebih Dulu Dirapikan

Namun target itu dinilai cukup sulit untuk dicapai. Sebab, Dinas Pertanian menyebut pola kerja petani untuk mengolah lahan masih kerap melakukan penundaan, apalagi selepas dilakukan panen.

Menyikapi target IP tak menutup kemungkinan belum dapat diwujudkan pada tahun ini, Wakil Ketua Komisi II DPRD PPU, Sujiati tak menampik hal itu. Menurutnya, petani masih menanam dengan pola lama.

“Itu benar. Karena pola pikir petani kita masih yang dulu, bukan modern,” ucap Sujiati, Selasa (1/7/2025).

Petani terjebak pola lama untuk waktu menanam setelah panen. Dimana mendiamkan lahannya sekira satu bulan baru melanjutkan untuk melakukan masa tanam. Dalam arti menunggu batang padi tersisa hancur dengan sendirinya.

“Orangtua dulu berpikirnya setelah panen, lahan itu didiamkan dulu, enggak diolah langsung untuk membuat batang padi membusuk dan jadi pupuk. Jadi menunggu membusuk sendiri,” terang dia.

Jika menerapkan pola modern dengan setelah panen langsung segera untuk menanam, kata dia petani juga akan kesulitan, khususnya terkait dengan biaya. Hal inipun menjadi alasan lain belum menerapkan sepenuhnya pola pengolahan secara modern.

“Kalau langsung (panen-tanam) itu harus ekstrem sama modalnya yang jelas harus mencari pupuk yang membusukkan batang padi,” tuturnya.

Meski begitu, dirinya mengatakan secara perlahan pola tanam petani pasca panen mulai berangsur berubah. Dikatakannya, mengubah sesuatu tidak semudah membolakbalikkan telapak tangan.

“Dulunya pernah tahun lalu dicoba, tapi gagal panen. Makanya, enggak mau diulangi lagi. Semua butuh edukasi dan kita harus memberikan pemahaman kepada petani,” tutup Sujiati.(adv/dprdppu)

SendShare32
Next Post

Bupati PPU Hadiri Hari Bhayangkara Ke-79, Wujud Kokohnya Sinergi Polri dan Pemerintah Daerah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular Posts

Terlaris di Balikpapan, Kursus Mengemudi di KAKA Driving Dijamin Pasti Bisa

by admin
09/11/2021
0
4.9k

Maksud Hati Merubah Nasib, Johanis Tinungki Pulang Tinggal Nama

by admin
22/08/2023
0
2.2k

Keluarga Sehat bersama Eco Enzyme

by admin
07/01/2023
0
2k

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
Hubungi Kami: admin@lingkaranberita.com

© 2021 Lingkaran Berita -Media Informasi Terkini.

No Result
View All Result
  • HOME
    • IBU KOTA NEGARA
    • AUTOMATIVE
    • FOOD & TRAVEL
    • EDUCATION
    • EKONOMI
    • HEALTH
    • LIFE STYLE
    • KRIMINAL
    • OPINI & CERPEN
    • SPORT
    • ENTERTAINMENT
  • BORNEO UPDATE
    • KALTIM
      • SAMARINDA
      • BALIKPAPAN
      • PENAJAM
      • SANGATTA
      • BONTANG
      • PASER
  • VIRAL NEWS
  • NASIONAL

© 2021 Lingkaran Berita -Media Informasi Terkini.