lingkaranberita.com, MALANG – Siapa sangka daun salam yang selama ini identik sebagai bumbu dapur, kini menjadi fokus riset ilmiah yang menjanjikan di Universitas Islam Malang (Unisma). Melalui program Hibah Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (HiMa), Unisma mendorong para dosen mengembangkan riset inovatif yang berorientasi pada pemanfaatan kekayaan hayati lokal sebagai solusi kesehatan berbasis sains.
SELENGKAPNYA TENTANG UNISMA BISA MENGUNJUNGI: www.unisma.ac.id
Salah satu penelitian yang mencuri perhatian dilakukan oleh tim dosen yang diketuai Dr. dr. Dini Sri Damayanti, M.Kes, bersama Apt. Anita Puspa W., S.Farm., M.Farm. Riset ini mengkaji potensi antibakteri ekstrak daun salam (Syzygium polyanthum) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, dua mikroorganisme yang kerap menjadi penyebab utama infeksi pada manusia.
Melalui pendekatan ilmiah yang komprehensif, tim peneliti mengungkap bahwa daun salam memiliki kandungan senyawa aktif berupa fenol dan flavonoid yang berperan sebagai antioksidan sekaligus antibakteri alami. Tak hanya itu, penelitian juga menemukan keberadaan senyawa resveratrol dan vitexin yang dikenal memiliki aktivitas farmakologis penting.
Proses ekstraksi menggunakan metode Ultrasonic Assisted Extraction (UAE) menghasilkan temuan menarik. Waktu optimal selama lima menit mampu menarik kadar flavonoid hingga 93,84 mg/g dan fenol sebesar 74,29 mg/g. Capaian ini menunjukkan efektivitas metode modern dalam mengoptimalkan perolehan senyawa bioaktif dari bahan alam.
SELENGKAPNYA TENTANG UNISMA BISA MENGUNJUNGI: www.unisma.ac.id
Uji aktivitas antibakteri membuktikan bahwa ekstrak daun salam mampu menghambat pertumbuhan E. coli dan S. aureus dengan diameter zona hambat masing-masing 11,7 mm dan 11,3 mm. Meski masih berada pada kategori potensi sedang dan di bawah antibiotik standar, hasil ini membuka peluang besar pengembangan daun salam sebagai bahan baku produk farmasi berbasis herbal.
Penelitian ini merupakan riset dasar sehingga masih memerlukan pengujian lanjutan, meliputi uji toksisitas akut, subkronik, dan kronik untuk memastikan aspek keamanannya. Sebagai luaran, hasil riset ini telah dipresentasikan pada forum internasional The 1st IC-BioTesta 2025 pada 20 September 2025 dan dipublikasikan dalam Bio Web of Conferences volume 209, artikel 03002 tahun 2026.
Melalui program HiMa, Unisma tidak hanya memperkuat budaya riset di kalangan dosen, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi berbasis kearifan lokal yang berdaya saing global, sekaligus berkontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kesehatan masyarakat.(adv)
SELENGKAPNYA TENTANG UNISMA BISA MENGUNJUNGI: www.unisma.ac.id