• SUSUNAN REDAKSI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • HOME
    • IBU KOTA NEGARA
    • AUTOMATIVE
    • FOOD & TRAVEL
    • EDUCATION
    • EKONOMI
    • HEALTH
    • LIFE STYLE
    • KRIMINAL
    • OPINI & CERPEN
    • SPORT
    • ENTERTAINMENT
  • BORNEO UPDATE
    • KALTIM
      • SAMARINDA
      • BALIKPAPAN
      • PENAJAM
      • SANGATTA
      • BONTANG
      • PASER
  • VIRAL NEWS
  • NASIONAL
No Result
View All Result
Lingkaran Berita
No Result
View All Result

Saat Sawit Lupa Tanahnya: Seruan Mudyat Noor untuk Mengembalikan Sawit kepada Rakyat

Catatan: Subur Priono, S.I.Kom (Humas Setkab PPU)

20/11/2025
in PENAJAM
0

Bupati PPU Mudyat Noor.(ist)

535
VIEWS
Share on WhatsappShare on Facebook

Ada satu pesan kuat yang menggema dari Munas II AKPSI tahun ini: sawit harus kembali menghidupi rakyat, bukan justru menjadi beban bagi mereka. Pesan itu datang dari Ketua Umum terpilih, Mudyat Noor, yang menyoroti kenyataan bahwa industri sawit kerap melaju tanpa arah, meninggalkan jejak problem sosial dan ekologis di kabupaten penghasil.

Related Posts

Dorong Adaptasi Daerah Hadapi IKN, PPU Lakukan Evaluasi Menyeluruh untuk Pimpinan Tinggi Pratama

Disdikpora Terapkan Skema “Cadangan Kepemimpinan” untuk Stabilkan Manajemen Pendidikan PPU

Waris Dorong Ekonomi Komunitas Lewat Pokdarwis

PPU Gencarkan Sosialisasi Aturan Ketenagakerjaan, 147 Perusahaan Mulai Lengkapi Laporan Operasi

Di Penajam Paser Utara, misalnya, perubahan struktur tanah akibat rantai produksi sawit mempengaruhi produktivitas pertanian. Belum lagi persoalan banjir, kerusakan jalan, dan konflik lahan yang kian kompleks. Namun di tengah semua dampak itu, penerimaan daerah dari sektor sawit justru minim.

Ironisnya, kontribusi kecil seperti retribusi TBS Rp50–Rp100 per kilogram pun sulit diwujudkan karena absennya dasar hukum nasional yang kuat. Padahal jumlah itu, jika dikumpulkan secara nasional, bisa menjadi amunisi besar untuk memperkuat petani, memperbaiki infrastruktur, dan menata tata ruang daerah.

Dalam kacamata Mudyat, masalah sawit bukan semata soal ekonomi. Ini persoalan keberlanjutan, stabilitas ruang hidup, hingga masa depan pangan daerah penghasil. Karena itulah, AKPSI harus bangkit kembali menjadi asosiasi yang mampu menegosiasikan hak-hak daerah, menata hubungan pemerintah–perusahaan–petani, dan mendorong hilirisasi yang membuka nilai tambah bagi masyarakat.

Kepengurusan AKPSI yang baru diharapkan tidak hanya menjadi simbol kebersamaan, tetapi mesin advokasi kolektif. Daerah penghasil menunggu langkah konkret: kepastian pendapatan, perlindungan bagi petani, regulasi yang berpihak, dan hubungan yang lebih setara dengan perusahaan sawit.

Jika semua itu diperjuangkan bersama, industri sawit bisa menjadi kekuatan pembangunan, bukan sumber persoalan. Pesan Mudyat Noor menjadi pengingat bagi semua pihak: “Sawit untuk kesejahteraan, bukan sawit yang menyisakan konflik.”.(adv/kominfoppu)

SendShare32
Next Post

16 Cabor, 253 Medali Diperebutkan, Persaingan Ketat Warnai POPDA XVII Kaltim di PPU

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular Posts

Terlaris di Balikpapan, Kursus Mengemudi di KAKA Driving Dijamin Pasti Bisa

by admin
09/11/2021
0
4.7k

Maksud Hati Merubah Nasib, Johanis Tinungki Pulang Tinggal Nama

by admin
22/08/2023
0
2.2k

Keluarga Sehat bersama Eco Enzyme

by admin
07/01/2023
0
1.9k

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
Hubungi Kami: admin@lingkaranberita.com

© 2021 Lingkaran Berita -Media Informasi Terkini.

No Result
View All Result
  • HOME
    • IBU KOTA NEGARA
    • AUTOMATIVE
    • FOOD & TRAVEL
    • EDUCATION
    • EKONOMI
    • HEALTH
    • LIFE STYLE
    • KRIMINAL
    • OPINI & CERPEN
    • SPORT
    • ENTERTAINMENT
  • BORNEO UPDATE
    • KALTIM
      • SAMARINDA
      • BALIKPAPAN
      • PENAJAM
      • SANGATTA
      • BONTANG
      • PASER
  • VIRAL NEWS
  • NASIONAL

© 2021 Lingkaran Berita -Media Informasi Terkini.