• SUSUNAN REDAKSI
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • HOME
    • IBU KOTA NEGARA
    • AUTOMATIVE
    • FOOD & TRAVEL
    • EDUCATION
    • EKONOMI
    • HEALTH
    • LIFE STYLE
    • KRIMINAL
    • OPINI & CERPEN
    • SPORT
    • ENTERTAINMENT
  • BORNEO UPDATE
    • KALTIM
      • SAMARINDA
      • BALIKPAPAN
      • PENAJAM
      • SANGATTA
      • BONTANG
      • PASER
  • VIRAL NEWS
  • NASIONAL
No Result
View All Result
Lingkaran Berita
No Result
View All Result

Suara Daerah Menguat, Munas II AKPSI Desak Pemerataan Manfaat Sawit bagi Masyarakat Lokal

18/11/2025
in PENAJAM
0

Bupati PPU Mudyat Noor bersama pengurus AKPSI tahun 2025.(ist)

536
VIEWS
Share on WhatsappShare on Facebook

lingkaranberita.com, JAKARTA — Musyawarah Nasional (Munas) II Asosiasi Kabupaten Penghasil Sawit Indonesia (AKPSI) bukan hanya menjadi ajang pemilihan ketua umum, tetapi juga momentum daerah-daerah penghasil sawit untuk menyuarakan kembali ketimpangan manfaat dalam industri sawit nasional. Dalam forum yang digelar di Kementerian Pertanian pada Selasa (18/11/2025), Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Mudyat Noor terpilih sebagai Ketua Umum AKPSI 2025–2030.

Related Posts

Dorong Adaptasi Daerah Hadapi IKN, PPU Lakukan Evaluasi Menyeluruh untuk Pimpinan Tinggi Pratama

Disdikpora Terapkan Skema “Cadangan Kepemimpinan” untuk Stabilkan Manajemen Pendidikan PPU

Waris Dorong Ekonomi Komunitas Lewat Pokdarwis

PPU Gencarkan Sosialisasi Aturan Ketenagakerjaan, 147 Perusahaan Mulai Lengkapi Laporan Operasi

Para peserta munas dari berbagai daerah menyampaikan persoalan yang hampir seragam: besarnya dampak operasional perusahaan sawit tidak sebanding dengan kontribusi yang diterima daerah. Konflik sosial, persoalan tanah, kerusakan infrastruktur, hingga nihilnya retribusi daerah menjadi isu berulang yang mencuat di forum tersebut.

Menanggapi amanah baru yang ia emban, Mudyat menekankan bahwa masa kepemimpinan ini bukan sekadar urusan jabatan, melainkan perjuangan kolektif daerah-daerah untuk memperoleh haknya.

“Selama ini kontribusi perusahaan sawit masih sangat kecil. Padahal masyarakat kami yang menanggung dampaknya. Melalui AKPSI, kita harus berjuang agar daerah penghasil sawit tidak terus menjadi penonton,” tegasnya.

Ia juga menyoroti perlunya revisi dan penataan regulasi, termasuk penyaluran dana BPDPKS serta skema retribusi tandan buah segar (TBS). Menurutnya, tanpa perubahan regulasi, daerah akan terus berada di posisi lemah dalam pengelolaan sumber daya yang ironisnya berada di wilayah mereka.

Selain pemilihan ketua umum, munas juga menjadi ruang konsolidasi untuk merumuskan strategi nasional AKPSI ke depan. Perwakilan pemerintah pusat seperti Staf Ahli Mendagri, Dirjen Perkebunan, dan Ketua Umum APKASI turut hadir dan memberikan pandangan terkait penguatan tata kelola industri sawit.

Munas ditutup dengan penegasan komitmen bersama untuk mendorong pemerataan manfaat sawit di seluruh daerah penghasil, sejalan dengan peringatan Hari Sawit Nasional yang digelar pada hari yang sama.(adv/kominfoppu)

SendShare32
Next Post

Modernisasi Pertanian Kian Dekat: Drone Seeder Jadi Magnet bagi Generasi Muda PPU

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Popular Posts

Terlaris di Balikpapan, Kursus Mengemudi di KAKA Driving Dijamin Pasti Bisa

by admin
09/11/2021
0
4.8k

Maksud Hati Merubah Nasib, Johanis Tinungki Pulang Tinggal Nama

by admin
22/08/2023
0
2.2k

Keluarga Sehat bersama Eco Enzyme

by admin
07/01/2023
0
1.9k

  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Hubungi Kami
Hubungi Kami: admin@lingkaranberita.com

© 2021 Lingkaran Berita -Media Informasi Terkini.

No Result
View All Result
  • HOME
    • IBU KOTA NEGARA
    • AUTOMATIVE
    • FOOD & TRAVEL
    • EDUCATION
    • EKONOMI
    • HEALTH
    • LIFE STYLE
    • KRIMINAL
    • OPINI & CERPEN
    • SPORT
    • ENTERTAINMENT
  • BORNEO UPDATE
    • KALTIM
      • SAMARINDA
      • BALIKPAPAN
      • PENAJAM
      • SANGATTA
      • BONTANG
      • PASER
  • VIRAL NEWS
  • NASIONAL

© 2021 Lingkaran Berita -Media Informasi Terkini.