lingkaranberita.com, Malang – Sebanyak 644 mahasiswa Universitas Islam Malang (Unisma) resmi diberangkatkan untuk menjalankan program Kandidat Sarjana Mengabdi (KSM) Tematik Berdampak. Dalam seremoni pelepasan yang digelar di halaman kampus Unisma pada Senin (4/8), Wakil Rektor Prof. Drs. H. Junaidi, M.Pd., Ph.D secara simbolis melepas para peserta yang akan mengabdikan diri di berbagai daerah, baik dalam negeri maupun luar negeri.
SELENGKAPNYA TENTANG UNISMA BISA MENGUNJUNGI: www.unisma.ac.id
Berbeda dengan program pengabdian masyarakat konvensional, KSM Tematik Unisma menitikberatkan pada inovasi sebagai motor penggerak perubahan. Mahasiswa dituntut untuk tidak hanya hadir di tengah masyarakat, tetapi juga meninggalkan jejak berupa solusi kreatif dan berkelanjutan.
“Program ini bukan hanya tentang mengabdi, tapi membawa inovasi nyata. Mahasiswa tidak datang dengan tangan kosong, mereka membawa ide dan solusi yang bisa langsung diaplikasikan di desa,” tegas Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unisma, Prof. Dr. Ir. Mahayu Woro Lestari, M.P.
Dibagi Tiga Skema, Menjangkau Dalam dan Luar Negeri
Dari total 644 mahasiswa, 466 di antaranya terlibat dalam program KSM Tematik, yang akan mengabdi di wilayah Malang Raya. Sementara itu, kelompok KSM Nusantara akan melaksanakan tugas di kampung halaman masing-masing, mencakup wilayah Pasuruan, Bali, Lumajang, hingga Bima. Tak hanya itu, Unisma juga mengirimkan satu kelompok dalam skema KSM Internasional ke Thailand sebagai wujud implementasi kerja sama global, khususnya dari Fakultas Kedokteran.
Para mahasiswa akan mengabdi selama kurang lebih 1,5 bulan hingga 19 September 2025 mendatang. Bahkan untuk KSM Internasional, mahasiswa akan melanjutkan pengabdian lanjutan di Indonesia setelah menyelesaikan misi di luar negeri.
Potret Potensi Desa, Transformasi Lewat Inovasi
Lebih dari sekadar aktivitas sosial, KSM Tematik diarahkan untuk mengembangkan potensi lokal desa. Mulai dari mendorong UMKM melek digital, mendampingi legalitas usaha rumahan, hingga memperbaiki kemasan produk agar lebih kompetitif.
“Mahasiswa akan memotret potensi desa, kemudian memberi sentuhan inovasi. Misalnya membantu pelaku usaha rumah tangga agar bisa masuk pasar digital, mengurus izin IRT, hingga membranding produk mereka,” lanjut Prof. Woro.
SELENGKAPNYA TENTANG UNISMA BISA MENGUNJUNGI: www.unisma.ac.id
Langkah ini diharapkan tak hanya memberi manfaat jangka pendek, namun juga meninggalkan warisan yang dikenang masyarakat sebagai hasil kreativitas dan kontribusi mahasiswa.
Dari Jurnal hingga HAKI: Luaran Nyata dari Mahasiswa KSM
Program KSM ini juga menghasilkan berbagai luaran sebagai bentuk pertanggungjawaban. Mahasiswa didorong untuk mempublikasikan artikel di jurnal, membuat liputan media, hingga video dokumenter. Bahkan, jika ada inovasi atau penemuan baru selama pengabdian, LPPM siap memfasilitasi pengurusan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).
“Karya mahasiswa akan terdokumentasi, dikenang, bahkan dilindungi secara hukum jika itu merupakan inovasi baru. Inilah esensi pengabdian yang berdampak,” pungkasnya.
Dengan konversi program KSM setara 3 SKS, mahasiswa tidak hanya belajar di bangku kuliah, tetapi juga langsung bersentuhan dengan realitas sosial. Melalui program ini, Unisma kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk lulusan yang bukan hanya cerdas akademis, tetapi juga tangguh di medan pengabdian.(adv/*)
SELENGKAPNYA TENTANG UNISMA BISA MENGUNJUNGI: www.unisma.ac.id